Seluma, Bengkulutoday.com – Desa Talang Kebun, Kecamatan Lubuk Sandi, Kabupaten Seluma, sudah cukup lama tidak memiliki bidan desa. Kondisi tersebut kini dikhawatirkan mulai berdampak pada meningkatnya berbagai persoalan kesehatan masyarakat, termasuk lonjakan kasus stunting.
Kepala Desa Talang Kebun, Salaludin, mengatakan keberadaan bidan desa sangat dibutuhkan mengingat letak fasilitas kesehatan yang cukup jauh dari desa. Selama ini, bidan desa tidak hanya menangani persalinan, tetapi juga menjadi tempat masyarakat memperoleh layanan kesehatan dasar.
"Kalau ada warga yang sakit biasanya langsung ke bidan desa. Di desa kami, bidan desa hampir seperti dokter umum karena akses ke fasilitas kesehatan cukup jauh," kata Salaludin, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, Desa Talang Kebun kehilangan bidan desa setelah tenaga kesehatan yang sebelumnya bertugas di desa tersebut lulus seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) pada 2025 dan ditempatkan di wilayah lain.
Pemerintah desa sebenarnya telah berupaya mencari solusi dengan menganggarkan honor bagi bidan desa melalui APBDes. Namun, langkah tersebut terkendala regulasi karena pemerintah desa tidak memiliki kewenangan untuk mengangkat bidan desa secara mandiri.
"Sampai saat ini belum ada titik temu. Kami sudah berkoordinasi dengan puskesmas dan Dinas Kesehatan, tetapi memang terkendala aturan dan keterbatasan tenaga kesehatan," ujarnya.
Akibat tidak adanya bidan desa, warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan harus keluar desa. Sementara itu, akses menuju fasilitas kesehatan maupun desa tetangga yang memiliki bidan tidak selalu mudah dilalui.
Saat ini pelayanan kesehatan di Desa Talang Kebun hanya mengandalkan petugas kesehatan dari puskesmas yang datang saat kegiatan posyandu, sekitar satu kali dalam sebulan.
Salaludin mengungkapkan, dampak ketiadaan bidan desa juga terlihat pada peningkatan kasus stunting. Data pemerintah desa mencatat jumlah anak stunting naik dari enam kasus pada tahun sebelumnya menjadi sembilan kasus pada tahun 2026.
"Kasus stunting meningkat dari enam menjadi sembilan anak. Salah satu kendalanya karena tidak ada bidan desa yang bisa melakukan deteksi dini terhadap masalah kesehatan ibu dan anak," ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan tenaga kesehatan di desa sangat penting dalam upaya pencegahan stunting, terutama untuk memantau tumbuh kembang balita, kondisi ibu hamil, serta memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
Meski demikian, pemerintah desa tetap melanjutkan berbagai program penanganan stunting. Salah satunya melalui pemberian makanan tambahan bagi balita dan pelaksanaan rembuk stunting yang dijadwalkan berlangsung pada 23 Juni 2026.
Salaludin berharap Pemerintah Kabupaten Seluma dapat segera menghadirkan solusi agar desa-desa yang jauh dari fasilitas kesehatan kembali memiliki bidan desa.
"Kesehatan merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Kami berharap ada perhatian khusus dari pemerintah daerah agar pelayanan kesehatan di desa kami dapat kembali optimal," harapnya. (Franky)