Kota Bengkulu - Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, berkomitmen mendaftarkan para sopir dan petugas pengangkut sampah ke dalam program BPJS Ketenagakerjaan. Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan silaturahmi bersama kelompok driver pengangkut sampah.
“Kami ke depan akan daftarkan BPJS Ketenagakerjaan, termasuk petugas kebersihan juga,” ujar Dedy.
Menurutnya, kebijakan pengelolaan sampah, termasuk rencana penataan sistem kontainer, tidak boleh merugikan para pekerja di lapangan. Ia menegaskan, pemerintah tidak ingin kebijakan tersebut justru menghilangkan mata pencaharian masyarakat.
“Kalau kontainer ditiadakan, nanti masyarakat tidak lagi berlangganan dengan mereka. Ini berarti tidak ada lagi lapangan pekerjaan,” tambahnya.
Dedy menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 200 pengangkut sampah di Kota Bengkulu. Rata-rata, setiap kelurahan memiliki dua driver, bahkan lebih untuk wilayah yang lebih besar.
Pemerintah Kota Bengkulu, lanjutnya, akan segera menyiapkan regulasi sebagai dasar pelaksanaan program tersebut, termasuk penganggarannya melalui APBD.
“Nanti akan kita buat regulasinya. Anggarannya dari APBD, karena APBD memang untuk rakyat,” tegasnya.
Sebelumnya, Wali Kota Bengkulu bersama para sopir angkutan sampah, perwakilan DPRD Kota Bengkulu, dan sejumlah pihak terkait menggelar pertemuan di Balai Merah Putih Bengkulu, Minggu (1/2/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Dedy mengakui bahwa pemerintah masih memiliki kekurangan dalam pengelolaan kebersihan kota.
“Saya katakan di awal, tidak ada manusia yang sempurna. Semua tentu ada khilaf, termasuk pemerintah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Pemkot Bengkulu terus membuka ruang dialog demi menyelesaikan berbagai persoalan.
“Yang sudah-sudah, ke depan kita akan terus berbenah. Kota ini harus bersih, lestari, dan kita sudah on the track,” katanya.
Dedy juga membantah adanya niat untuk mengkriminalisasi para sopir sampah. Ia menjelaskan, laporan hukum yang sempat muncul merupakan inisiatif tim hukum saat dirinya tidak berada di Bengkulu.
“Saya minta tim hukum mencabut laporan. Tidak ada sedikit pun niat mengkriminalisasi warga. Itu warga saya,” tegasnya.
Menurutnya, laporan tersebut dibuat untuk menjaga marwah pemerintah, namun ia memilih menempuh jalur dialog demi menjaga kondusivitas.
“Eskalasinya sudah seperti ini, mari kita duduk bersama,” ujarnya.
Suasana Cair dan Penuh Kekeluargaan
Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana cair dan penuh kekeluargaan. Selain berdialog, kegiatan juga diakhiri dengan makan bersama.
“Dengan legowo, pemerintah mengakui jika ada yang belum maksimal. Ke depan saya berjanji terus berbenah,” kata Dedy.
Sementara itu, Ketua Sopir Angkutan Sampah Bengkulu, Dedi, menyambut baik sikap terbuka pemerintah. Ia menyebut kedua belah pihak sepakat untuk saling memaafkan.
“Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Sama-sama salah. Kami merasa bersalah, Pak Wali juga,” ujarnya.
Ia berharap, ke depan komunikasi dan koordinasi antara sopir dan pemerintah semakin baik, terutama terkait pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Alhamdulillah, responsnya bagus. Kami ucapkan terima kasih,” tutup Dedi.