Seluma, Bengkulutoday.com - Sejumlah petani di Desa Paluah Terap, Kecamatan Ilir Talo, Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu mengeluhkan anjloknya harga cabai. Saat ini, harga jual cabai di lahan tingkat petani berada di harga Rp 17.000 hingga Rp 20.000/kilogram.
Salah seorang petani di Desa Paluh Terap, Kecamatan Ilir Talo, Juvventus (30) mengatakan, anjloknya harga cabai ini telah berlangsung selama kurang lebih dua minggu.
Menurut Juven, jika harga cabai sedang normal, ia biasa menjual hasil tanamnya dengan harga Rp30.000 hingga Rp 40.000/Kilogram. Sementara jika harga cabai sedang tinggi, ia bahkan bisa menjualnya dengan harga Rp 30.000 - Rp 60.000/Kilogram.
Namun untuk saat ini, harga jual cabai di tingkat petani hanya berkisar antara Rp17.000 hingga Rp20.000/Kilogram. Kondisi ini pun membuat para petani kesulitan untuk mendapat keuntungan. Pasalnya, harga jual cabai saat ini tidak sebanding dengan modal yang mereka keluarkan.
"Sekarang harganya cuma Rp17.000 sampai Rp20.000/Kilogram. Kalau normalnya itu Rp30.000 sampai Rp40.000/Kilogram. Nah kalau lagi melonjak itu bisa sampai Rp30.000 sampai Rp60.000," kata Juven saat berbincang dengan Bengkulutoday.com di Desa Paluah Terap, Kecamatan Ilir Talo, Kabupaten Seluma, Sabtu (01/04/2023).
Tidak hanya sulit mendapat keuntungan, merosotnya harga cabai ini pun turut membuat petani kesulitan untuk membeli pestisida dengan kualitas yang baik. Akibatnya, tidak sedikit cabai-cabai yang mereka tanam akhirnya rusak bahkan mati, terlebih di tengah musim hujan.
"Kalau harganya Rp30.000/Kilogram itu kita masih bisa beli obat yang bagus. Kalau sekarang kita bingung. Mau beli obat yang mahal sulit, akhirnya beli obat yang murah. Tapi akibatnya banyak tanaman yang rusak," ucap Juven.
Saat ini, Juven bersama dengan para petani lainnya hanya berharap ada intervensi dari Pemerintah untuk bisa menstabilkan harga cabai.
"Kita berharap pemerintah bisa membuat harga cabai kembali normal. Karena dengan harga cabai sekarang, buat beli obat yang bagus aja kita sulit," kata dia.