Bunga bangkai (Amorphophallus titanum) merupakan tumbuhan asli Indonesia dan populasi liarnya hanya ditemukan di hutan-hutan Sumatera.
Bunga bangkai bukanlah bunga Raflessia (bunga padma). Bunga bangkai termasuk suku talas-talasan (Araceae) sehingga memiliki umbi. Sedangkan Raflessia merupakan tumbuhan parasite dengan pohon inang Tetrastigma. Umbinya berukuran raksasa, beratnya dapat mencapai 117 kg.
Fase daun dan fase bunga dari bunga bangkai ini tidak bersamaan. Fase daun dapat mencapai 1-2 tahun, setelah itu umbi akan dorman (fase istirahat) selama beberapa bulan, kemudian berbunga. Apabila terjadi penyerbukan dan pembuahan, akan muncul buah.
Perbungaan bunga bangkai merupakan sekelompok bunga kecil jantan dan betina. Tempat menempelnya bunga ada di bagian dasar tongkol. Tongkol (spadiks) yang berwarna kuning dikelilingi oleh seludang bunga yang berwarna merah keunguan. Tinggi spadiks yang dapat mencapai 3 m menjadikan bunga bangkai dijuluki ‘Bunga Raksasa’. Bunga jantan dan betina tidak masak bersamaan. Bunga mekar sempurna (bunga betina masak) di malam hari dan mengeluarkan bau ‘bangkai’. Bunga jantan masak keesokan harinya, sehingga secara alami sulit menyerbuk sendiri.
Pada proses mekar ini, terjadi peningkatan suhu di bagian tongkolnya sehingga kadang-kadang dapat mengeluarkan asap. Sering kali bunga mekar disore hingga malam hari. Penyerbukan dapat terjadi dengan bantuan serangga penyerbuk atau manusia.
Umbinya sendiri bermanfaat karena kandungan lucomannan-nya. Glucomannan memiliki kegunaan sebagai zat pengental, jelly yang kaya serat (I) dan dietary supplements yakni untuk antikolesterol, penetralisir kadar gula darah, kesehatan pencernaan, penyerapan zat beracun dalam pencernaan dan agen control berat badan. (bisri)
Sumber : KPPL Bengkulu