Destruktif Perpenyuan

Penyu hijau

Perairan Indonesia merupakan rute perpindahan (migrasi) yang terpenting di persimpangan Samudera Pasifik dan Hindia. Lebih dari itu, tercatat memiliki pantai peneluran Penyu Belimbing dan penyu hijau, salah satu tempat bertelur satwa ini terdapat di sepanjang Pantai Pantai Bengkulu.

Pada umumnya penyu memiliki 3 habitat hidup yaitu habitat bertelur, habitat kawin dan habitat makan. Habitat makan dan habitat kawin berada di dalam lautan sedangkan untuk habitat bertelur dilakukan di pesisir dan hanya dilakukan oleh penyu betina.

Penyu sangat sensitive terhadap perubahan iklim mengingat karakteristik siklus hidupnya dipengaruhi oleh temperatur, seperti penentuan jenis kelamin pada embrio penyu. Keberadaan sumber makanan dan terlebih lagi penyu mempunyai pertumbuhan rata-rata lambat sehingga sangat rentan terhadap ancaman dari lingkungannya.

Kabupaten Mukomuko adalah salah satu kabupaten baru di Provinsi Bengkulu yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Utara di sepanjang pesisir pantai di Mukomuko berpotensi sebagai tempat penyu mendarat untuk bertelur.

Tepatnya di TWA Air Hitam, hutan yang jauh dari peradaban manusia dan gangguan kendaraan, lampu- lampu jalan serta pesisir yang bersih dari sampah plastik ini merupakan tempat yang disukai penyu untuk meletakkan telurnya. Namun tidak cukup dengan tempat yang jauh dari peradapan manusia, penyu-penyu ini akan menghadapi para predator yang mengonsumsi telur penyu tersebut. Hal ini lah yang menyebabkan menurunnya persentase tingkat hidup telur menjadi tukik.

Populasi penyu di kawasan TWA Air Hitam didominasi oleh spesies Penyu Lekang. Karakteristik habitat peneluran berupa pantai yang landai dengan kemiringan antara 4,00- 6,25, lebar pantai dengan pasang tertinggi antara 2,6-7,8 m, fraksi pasir halus dengan persentase 93,43 % dan vegetasi pantai didominasi pohon cemara (Casuarina equisetifolia) dengan rata-rata INP 99,82%.

Habitat pada daerah Muara Teramang berpotensi tinggi sebagai wilayah perlindungan penyu karena kondisi kemiringan cukup landai, lebar pantai dengan hamparan yang luas dan vegetasi cemara yang homogen.

Habitat TWA Air Hitam menjadi pantai peneluran yang cukup ideal bagi penyu lekang bertelur sepanjang tahun. Lokasi peneluran penyu terdapat 6 sarang dengan karateristik yang berbeda-beda namun pada umumnya penyu lekang menyukai pantai yang landai.

Populasi dan Destruktif Penyu

Indonesia merupakan rumah besar enam spesies penyu dari tujuh spesies yang ada di dunia. Mulai penyu hijau [Chelonia mydas], penyu sisik [Eretmochelys imbricata], penyu lekang [Lepidochelys olivacea], penyu belimbing [Dermochelys coriacea], penyu pipih [Natator depressus], dan penyu tempayan [Caretta caretta].

Sebanyak empat jenis menjadikan pesisir barat Bengkulu sebagai tempat bertelur, yaitu penyu sisik, penyu lekang, penyu belimbing, dan penyu hijau.

Teluk Sepang, Kota Bengkulu, merupakan habitat Penyu Sisik dan Penyu Lekang.

Namun, kondisi Teluk Sepang yang mulai bising dan penuh cahaya membuat penyu enggan datang. Penyu butuh tempat yang damai, sepi dan gelap untuk bertelur.

Sebanyak empat jenis penyu menjadikan pesisir barat Bengkulu sebagai tempat bertelur, yaitu penyu sisik, penyu lekang, penyu belimbing, dan penyu hijau.

Ada empat kelompok pemerhati penyu di Bengkulu yang resah dengan kondisi penyu saat ini. Yayasan Latun di Kota Bengkulu, Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara [KPPAU] di Bengkulu Tengah, Komunitas Pecinta Alam Konservasi Penyu Mukomuko [KPAKPM] di Mukomuko, dan Kelompok Pelestari Penyu di Kabupaten Kaur.

Di Pantai Teluk Sepang, kami melihat penyu. Biasanya, warga mengendap malam hari, di semak bibir pantai. Tak boleh ada lampu menyala. Harus sepi.

Sepanjang garis pantai pesisir barat Bengkulu merupakan lokasi penyu bertelur. Tapi, sekarang hanya dua tempat tersebut yang aktif. Pulau Tikus paling sering dikunjungi penyu sisik dan penyu hijau. Sementara pantai Teluk Sepang tempatnya penyu sisik dan Penyu Lekang.

Konservasi Penyu pada dasarnya sangat bermanfaat untuk masyarakat dan Penyu itu sendiri, dikarenakan saat ini Penyu sebagai habitat yang sudah sangat langka, dan kerap dijadikan oknum tertentu untuk bisnis komersil yang hanya menguntungkan pribadi atau kelompok-kelompok tertentu saja.

Populasi penyu penyu hijau dan hitam belum disurvei cukup lama untuk menentukan tren. Namun, pengamatan kualitatif kunjungan penyu betina selama beberapa tahun menunjukkan penurunan besar.

Populasi Penyu Lekang dapat mencapai beberapa ratus ribu betina dewasa . Penyu lekang adalah penyu paling berlimpah di dunia. Pada tahun 1991, diperkirakan 610.000 penyu bersarang dalam satu minggu di pantai di India.

Sangat sedikit data yang tersedia tentang populasi penyu sisik. Perkiraan ukuran populasi betina yang bersarang sulit dengan pengamatan dari udara: jejak di pasir tidak bertahan lama dan sulit dilihat, dan sarang sering dikaburkan oleh vegetasi pantai.

Jumlah populasi penyu pipih saait ini tidak diketahui; namun, karena distribusinya yang terbatas, pipih adalah yang paling rentan dari semua penyu terhadap perubahan habitat atau eksploitasi berlebihan.

Mungkin ada kurang dari 115.000 penyu belimbing dewasa di seluruh dunia. Ada terlalu sedikit catatan untuk memprediksi tren; namun, jumlahnya tampaknya tidak menurun. 

Pen

Destruktif Penyu di Belahan Pulau Lainnya

Pada suatu hari di Bulan Mei 2019, Kepala Regu Petugas Lapangan Yayasan Penyu Indonesia melaporkan adanya seekor induk penyu hijau (Chelonia mydas) yang tersesat jauh di dalam hutan Pulau Belambangan. Saat itu induk penyu itu ditemukan dalam keadaan tidak bergerak karena badannya terlilit akar dan pergerakannya terhambat oleh anakan pohon yang tersebar luas di hutan di pulau itu.

Kemudian para ranger memutuskan untuk menggiring penyu tersebut ke arah laut dengan membersihkan jalan penyu itu. Proses evakuasi ini berlangsung selama 30 menit sebelum penyu itu berhasil kembali berenang ke laut.

Tidak diketahui secara pasti kenapa penyu betina ini tersesat dan memutuskan untuk masuk jauh ke dalam hutan. Ini adalah kasus pertama yang terjadi di Pulau Belambangan.

Pada tahun 2018 yang lalu, tim kecil Yayasan Penyu Indonesia (YPI) dikirim ke Cape Verde – Afrika, untuk studi banding pengelolaan penyu yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi lokal yang bernama Fundacao Tartaruga di sebuah pulau yang dinamakan Boa Vista. Di sana ranger YPI melaporkan banyak sekali induk penyu tempayan (Caretta careta) yang tersesat hingga jauh ke daratan. Alasan tersesatnya penyu tempayan di tempat ini adalah karena polusi cahaya yang dihasilkan oleh sebuah hotel milik perusahaan swasta dari Spanyol. Induk-induk penyu tempayan itu kebingungan dengan cahaya lampu yang ada di sana, sehingga masuk ke daratan lebih dalam, kehilangan orientasi arah laut dan akhirnya mati kering oleh panasnya matahari padang pasir Boa Vista.

Akan tetapi tidak ada polusi cahaya di Pulau Belambangan itu sendiri, melainkan sumber cahaya terdekat dari menara lampu suar di pulau terdekat sejauh 5 km. Sumber cahaya yang nampak adalah bagan-bagan di Karang Besar Batu Putih dan cahaya Ibu Kota Berau, Tanjung Redeb yang jaraknya ratusan mil dari Pulau Belambangan yang terpencil ini. Jadi kemungkinan penyu tersesat karena disorientasi akibat polusi cahaya, sangat kecil.

Sekedar informasi, pada Bulan Januari 2019 lalu di sepanjang pantai di Israel, ditemukan sekurangnya 96 penyu dengan rincian:

  • 69 ekor penyu tempaya (Caretta caretta)
  • 16 ekor penyu hijau (Chelonia mydas)
  • 11 ekor penyu lain tidak teridentifikasi

Semuanya menderita luka-luka dan dibawa ke Israel Nature & Park Authority (INPA) dan Sea Turtle Rescue Centre (STRC). Semua penyu yang didokumentasikan dalam keadaan hidup dan mati itu dilaporkan oleh masyarakat ke sambungan hotline (INPA), sosial media dan para voluntir STRC.

Triase medis, perlakuan intensif, pengobatan konvensional dan cairan dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh Dr.Itzhak Aiznberg. Post mortem juga dilakukan kepada 7 ekor sampel penyu.

CT scan dari penyu-penyu hidup yang terluka menguak sebuah informasi bawa semuanya menunjukan gejala trauma jaringan: pulmonary hemorrhage di paru-parudan pengumpulan cairan (infeksi)  di telinga tengah penyu. Gejala semacam itu biasanya diakibatkan oleh trauma gelombang kejut (dari ledakan) bawah air pada level yang signifikan. Misalnya upaya eksplorasi   minyak bumi oleh kapal-kapal besar yang menggunakan metode peledakan dengan menggunakan udara yang dikompresi dan dilepas dengan sebuah air gun. Kegiatan ini biasanya disebut dengan eksplorasi minyak dengan menggunakan teknik seismik untuk menciptakan sebuah peta riil 3 dimensi.

Sejauh ini tidak ada informasi terkait adanya kegiatan seismik di Perairan Kabupaten Berau, tidak ada potensi gelombang kejut di bawah air. Namun dilaporkan oleh masyarakat dan nelayan bahwa pengeboman ikan masih marak terjadi. Pada tanggal 23 Mei 2019 lalu tim YPI bersama dengan Kepolisian Airud melakukan patroli di Karang Muaras, hanya dalam kurun waktu 30 menit saja terjadi 2 kali ledakan bom yang dapat disaksikan dari jauh. Tim berusaha melakukan pendekatan pada kapal-kapal yang diduga melakukan pengeboman ikan itu namun mengalami kandas karena air surut. Tim hanya mendapatkan beberapa gambar dan video dari drone yang dilepaskan menuju para pengebom itu.

Dengan maraknya pengeboman seperti itu sementara dapat diduga kasus tersesatnya induk penyu hijau akibat gelombang kejut dari bom ikan yang melukai telinga tengah penyu yang pada akhirnya mengacaukan navigasi dari penyu-penyu ini.

***

Kampus LingkunganPen image widget