Skip to main content
cerpen
Ilustrasi persingahan di Pelabuhan Benkoelen (foto dari penulis)

Stoomboot Menuju Benkoelen, Sebuah Cerpen

  • Star
  • Star
  • Star
  • Star
  • Star

oleh : Benny Hakim Benardie 

Pepatah lama mengajarkan, “Ada air ada ikan, ada angin ada pokoknya. Tersirat makna, bila ada negeri tentulah ada rakyatnya Segala sesuatu mestilah ada asal mulanya. Tapi itu tak terpikirkan oleh Hendrik van Grietjen. Tugas  negara harus dilaksanakan, meskipun tak tentu rimba belantaranya. 

Bergegas Hendrik mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk perjalanan jauh menuju eks koloni Inggris, Negeri Benkoelen yang kini diamanatkan kepada negaranya, Belanda berjaya.  Antara harapan dan khayalan sempat terbetik, dimana sebelumnya terngiang di telinga akan melimpah ruahnya hasil bumi lada, kopi, pala dan  cengkeh.

“Siang yang cerah tuan?” sapa Tuan Hendrik pada seorang pemuda yang  mengenakan berpakaian serba putih berdasikan kupu-kupu.

“Yaa....Siang yang cerah Tuan Hendrik van Grietjen. Saya Bram yang nantinya akan membantu Tuan  di Negeri Benkoelen. “Semoga perjalanan jauh dan meletihkan ini selamat sampai  di tujuan tuan”, tegur Tuan Bram sembari menyodorkan tanggan untuk bersalaman.  

“Semoga”  sambut Hendrik dengan senyuman.  “Apa anda punya informasi tentang eks koloni Inggris itu Tuan Bram?” 

“Sedikit sekali yang saya baca disurat kabar.  Saya juga belum mendapat rincian akurat kenapa negara kina Belanda ini mau  mengambil alih Negeri Benkoelen, yang notabene  satu-satunya koloni Inggris di Asia Tenggara. Katanya negeri itu  didirikan sebagai sumber alternatif lada mereka  Tuan Hendrik, Tapi usai negara kita menguasai Islandia pada abad ke-17, pos terdepan Inggris kecil di sepanjang pantai yang  berpenduduk rendah ini tidak pernah dihargai lagi” jelas Tuan Bram ketawa terkekeh-kekeh.

Tuan Hendrik membalas ketawa dengan sumringah. “Terima kasih, Puji Tuhan. Saya juga hanya tahu dari teman saya yang ada di pemerintahan kerajaan, kalau Negeri Benkoelen itu  terbangun dari sikap apatis selama masa pemerintahan Raffles tahun 1818 hingga 1824. Tapi pada Tahun 1825, koloni tersebut dipindahkan ke Belanda”, kata Tuan Hendrik sembari tersentak, saat mendengar intruksi seluruh penumpang untuk segera masuk kedalam kapal untuk diberangkatkan.

foto

Belum habis rasanya suara klakson kapal lima saudara,  Kapal Frigate de Vijfgebroeders, hilang dengingan suaranya ditelinga. Sauh kapal bermuatan ratusan personil itu belum kering dari asinnya air laut Belanda, tampak bola mata  Hendrik van Grietjen berkaca-kaca. Terlintas kerinduan akan kedua orang tua, adik sanak dan jiran tetangganya. 

Tak pernah terbetik olehnya akan menanggung kukuran di bae kek kelapo.  Ini perjalanan  perdananya mengarungi samudera luas dalam kemerahan darah perperangan yang tak tahu kapan itu semua akan berakhir.  Kini 1 Desember 1854, mencari peruntungan baru dimulai. 

 Kapal melaju memecah ombak, seiring ikan lumba-lumba  mengiringi pinggiran kapal, seakan ingin menghantar 94 kapal lainnya keperbatasan. Hilang titik pandangan pada negara kelahirannya. Pasrah kata terakhir yang terbetik dalam benaknya,  tatkala sesekali percikan ombak mencoba  membasahi baju yang dikenakan Tuan Hendrik.

Dari pinggirian geladak kapal, Tuan Hendrik  tampak duduk memandang lautan lepas seakan tak pernah ada tepian. Sementara beberapa penumpang lainnya tampak asyik bercengkrama.  Sebuah buku kecil  dan pena dikeluarkannya dari dalam koper, untuk mengoreskan apa yang terlihat dan terlintas dibenaknya saat ini.

Sebelas hari perjalanan  mengarungi lautan, cuaca cukup bersahabat. Tapi tidak di malam yang ke-12 ini.  Pada sekira pukul 7 pagi, kapal  sempat merapat di Pelabuhan Nieuwediep,  akibat angin badai melanda  dasyat yang nyaris membalikan  kapal yang ada. Raut cemas dan beberapa  pekikkan ketakutan menambah riuh dan kalut suasana.  

Tak satupun para penumpang diperbolehkan turun, hingga sepuluh jam lamanya badai berlangsung  dan akhirnya angin badaipun berlalu. 

“Horreee.....Horreeee  penghalang itu telah lenyap”, beberapa penumpang kapal  Kapal Frigate de Vijfgebroeders berteriak  kegirangan.  Berbagai minuman dan makanan disajikan mengiringi perjalanan dilanjutkan.  Tentunya nyanyian dan pujian dilantunkan  diantara kegirangan dan kecemasan berlangsung hingga tengah malam. 

****

Tuan Hendrik yang rupanya dari malam tertidur di kursi  dekat pinggiran pintu masuh restouran  kapal, tersentak bangun, saat percikan air membasahi pipinya.  “He bangun....bangun kamu Hendrik!” panggil seseorang  dengan suara yang mengairahkan  terdengar ditelingga. 

“Ia.......Hei Magdalena, kamu rupanya. Kamu berangkat juga rupanya. Bersama siapa kamu berangkat?” tegur Tuan Hendrik sedikit kaget, melihat Magdalena  temannya satu sekolah.

“Saya ikut papa ke Benkoelen. Tadi saya akan ke toilet, eh melihat kamu tidur. Maaf kalau aku menggangu tidur kamu. Baiklah Hendrik, nanti kita berbincang saat makan pagi”, tegur gadis mengenakan topi bundar berwarna pink itu dan berlalu. 

Pagi itu tegur sama Tuan Hendrik di restouran kapal bersama Papa Magdalena. Rupanya  tujuan mereka sama menuju Negeri Benkoelen, yang oleh Papa Magdalen disebut Negeri Tanah Mati. Rupanya ini kali keduanya Papa Magdalena menjalankan tugas, untuk membantu perdagangan lada, kopi, cengkeh  dan pala.

“Setelah itu kami akan pindah ke daerah Lebong, daerah tambang emas,” kata Papa Magdalena. Tuan Hendrik tampak mengangguk-angukan  kepala, karena tak mengerti soal tambang emas yang di sebutkan, selain perintah membantu  perdagangan hasil bumi.

Sembari menikmati santapan kambing guling domba muda  dan roti, percakapan ketiganya terlihat  penuh tawa. Sesekali pandangan Tuan Hendrik memanah bibir tipis Magdalena usai sereguk wiski membasawi bibir. “Crut ah....”, kata Tuan Hendrik dalam hati 

  Berhari-hari diatas kapal, suasana nyaman dan santai  memang diciptakan oleh para pengurus kapal Frigate de Vijfgebroeders.

****

 Berbagai kegiatan dilakukan penumpang diatas kapal, dan itu mungkin juga terjadi pada 94 kapal yang lainnya.  Upaya  menghilangkan rasa jenuh dari malam hingga pagi menjelang. Terkadang, selama berhari- hari  mengatung ditengah lautan, menanti angin bersahabat meniup layar terkembang menuju daerah jajahan.

Pelabuhan Nieuwendiep Belanda telah lama lenyap dari pandangan ratusan penumpang. Sesekali hanya teringat, sesaat sebelum keberangkatan, dimana  ada orang terpancar rasa bahagia. Ada orang terdengar menyanyikan lagu perpisahan terakhir untuk tanah airnya Belanda, seakan tidak pernah akan melihatnya lagi.

Lucunya, saat iringan kapal melintas di Laut Utara, nyaris tak ada yang tadinya ada. Diam merupakan pilihan terpaksa.  Tuan Hendrik melamun saat memperhatikan para penumpang senegaranya diatas kapal, yang terus melaju menerjang ombak dan menantang badai.

 “Siapa yang pernah meninggalkan tempat kelahirannya  dengan tujuan, orang itu akan dapat berbicara paling baik dari apa yang ada di hati setiap orang. Setiap orang yang masih mencintai orang-orang terkasih di tanah air yang terhormat, melirik terakhir ke tempat kelahirannya, tapi segera saja titik terakhir ini hilang di depan mata kami. dan kemudian kami benar-benar pergi ke laut yang mengamuk”, tulis Tuan Hendrik di buku kecilnya. 

****

Kapal kembali melaju dengan gagah, usai dihembus Angin  Selatan. Telah berbagai pulau terluar dilintas. Hari ini,  Kapal Frigate de Vijfgebroeders  melintas seharian Laut Inggris, dan tampak pantainya yang dihiasi pegunungan Cretaceous. Penumpang menikmati itu hingga keluar dari Selat Inggris dan beralih di atas dasar Laut Spanyol,  cuaca mulai kembali tak bersahabat. Angin badai kembali menerpa. Kecemasan kembali terjadi.

Sempat diperjalanan yang melelahkan itu, kapal  berpapasan  dengan kapal  Swedia yang telah kehilangan dua tiang dengan setengah tembok pembatas kapal yang rusak.

Hari ke 42  belum juga ada instruksi kalau perjalanan telah usai. Magdalena dan papanya  sudah beberapa hari ini tidak tampak sarapan pagi direstouran. Sebuah kapal  berjalan lambat, sepertinya memang sedang menunggu  dan entah apa yang di bicarakan kedua kapten kapal itu. 

Ternyata itu kapal sewaan  dengan 300 emigran asal Inggris dan Jerman menuju Australia, Tuan Hendrik mencoba melihat, ternyata penumpangnya  kebanyakan para wanita dan beberapa anak-anak.

 

Sudah dua bulan lebih Kapal Frigate de Vijfgebroeders  mengarungi Samudera Besar dan tiba di Laut Hindia. Terdengar pengumuman sikira pukul 7 pagi, kalau kapal saat ini melintas di perairan Laut Sunda.  Sauh kembali diturunkan, mengingat akan tiba kembali cuaca yang tidak bersahabat. 

Beberapa jam berselang, beberapa perahu mecoba merapat dan menawarkan dagangan buah segar ataupun barter makanan. Kapten kapal tampak membeli seekor penyu seberat 189 Kilogram,  yang akan menjadi sup santapan bagi 189 pria diaatas kapal.

“Kapten.......Kapal  sudah empat hari melintas di Selan Sunda, apakah ini tujuan akhir kita?” tanya Tuan Hendrik.

“Tidak Tuan. Perjalanan kita ke Negeri Benkolen masih jauh. Harap anda kuat dan tabah. Tampaknya anda baru pertama kali mendapatkan tugas ya?” tanya Sang Kapten Kapal Frigate de Vijfgebroeders, yang berteriak pada awak kapal untuk merapat ke pelabuhan di Batavia.

Mendengar Batavia, para peumpang kapal tampak mengamati sejauh mata memandang Negeri Batavia yang fenomenal itu. Kapal merapat dan para penumpang dipersilahkan turun  dan dibawa ke Lands Werf. Suguhan setengah botol anggur dan roti putih dibagikan. 

Penumoang  diberitahu akan menetap hingga  matahari menyengat  berakhir. Tuan Hendrik dan penumpang lainnya  berbaris ke Weltevreden disambut para musisi. Saat iba di barak, para penumpang  tampak heran, saat disuguhkan minum teh hangat, bukan yang dingin.   

Sup terasa lebih enak  dengan roti dan banyak daging. Pada hari berikutnya mulai dirasakan makanan yang disajikan dengan cara yang ‘aneh’, seperti nasi dan sambal, yang membuat mulut dan tubuh terasa terbakar. Ada roti, nasi ditambah telur. Tak berapa lama, tentu saja banyak penumpang mulai terasa tidak sehat badan, akibat makanan yang dianggap mereka ‘aneh’. 

****

 Di Batavia, Tuan Hendrik banyak bertemu orang senegaranya dan memperoleh beberapa informasi tentang kondisi dan situasi mutakhir  Negeri Benkoelen.   Setidaknya  mendapat pencerahan saat kegalauan di tengah keletihan karena  jauhnya perjalanan dari Eropa ke Asia Tenggara. 

Kapal Frigate de Vijfgebroeders ternyata berlabuh akhir batas Batavia atau di Weltevreden. Sang Kapten kapal melaklukan transit para penumpang yang akan menuju Negeri Benkoelen menumpang kapal uap,  the Stoomboot.

Untung tak dapat ditolak, nasip tmah sakit tak dapat ditahan. Setibanya Tuan Hendrik van Grietjen  di Negeri Benkoelen, diterpa penyakit darah tinggi, sehingga ia doboyong kerumah sakit di daerah Anggut, 31 Agustus 1855. Dengan segenap tenaga sisa, tulisan dicatatan pada buku kecil masih dapat ditorehkannya. Harapannya besar untuk sembuh. Namun apa daya, empat hari berlalu, kondisi Tuan Hendrik kian lemah. Magdalena yang sejak awal membantu, menitikkan air mata melihat sahabatnya terserang penyakit. 

“Saya harap kamu bantu saya. Hanya kamu.......Bila terjadi saya mati, maka tolong sampaikan kabar ini dan buku ini sebagai kenangan terakhir”, bisik Tuan Hendrik terbatah-batah.

“Aku janji kawan.....Aku janji segera aku kabarkan kesakitan kamu saat ada kapal berangkat ke Belanda”.

Nafas Tuan Hendrik tampak tersengal-sengal dan sesekali ia mengerang kesakitan. Ia tak berdaya. Dari tempat tidur ketempat tidur saja yang diperolehnya. Tuan Hendrik tak sendiri tergolek lemah dirumah sakit. Masih ada puluhan orang Belanda lainnya  berbaring di rumah sakit, termasuk para militer yang lagi bertugas.

Sebelum kematiannya, Tuan Hendrik sempat sesaat segar dan menuliskan di buku kecilnya tentang  lokasi baraknya yang berada di sebuah benteng besar, terletak di dekat laut dan dulunya  milik orang Inggris. 

Magdalena membenarkan pengamatan sesaat Hendrik. Apalagi Magdalena hampir satu dekade lebih, ikut menetap di Negeri Benkoelen.

“Barak besar dan kuat dengan dengan 105 buah tempat, yang sebenarnya dapat lebih ditinggikan, sebelum masyarakat pribumi mendatangi dan merebut pakaian kita. Kehati-hatian  harus selalu dijaga, termasuk saat berjalan kaki jauh dari benteng dengan tidak dipersenjatai bedil sangat berbahaya. Penduduk asli tidak dapat dipercaya”, ujar Magdalena. 

Magdalena menjelaskan kebiasaan orang Belanda di Negeri Bengkulu ini pada Tuan Hendrik. Bila saatnya ia sembuh, maka saat akan berpergian, maka harus membawa senjata. 

“Biasanya dari  10 atau 12 orang, ada satu orang dipersenjatai bedil”, kata Magdalena yang ternyata dari tadi bercerita  sendiri. Tuah Hendrik ternyata  telah pergi sejak awal cerita terjadi.

*Pemerhati Sejarah dan Budaya Bengkulu.  

Facebook comments

polda

 

Berita Terkait