Jakarta, BENGKULUTODAY.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan awal pekan. Hingga Senin pagi (6/7/2026), mata uang Garuda diperdagangkan di level Rp17.987,00 per dolar AS, mendekati angka psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pelemahan ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat di tengah perkasaanya dolar AS di pasar keuangan global. Posisi tersebut juga tidak menunjukkan perubahan berarti dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pada perdagangan Jumat (3/7/2026), rupiah juga ditutup di kisaran Rp17.987,00 per dolar AS, sehingga hingga Senin pagi mata uang Indonesia belum mampu mencatatkan penguatan.
Melemahnya nilai tukar rupiah dikhawatirkan dapat berdampak pada kenaikan harga sejumlah barang, terutama produk yang bergantung pada bahan baku maupun impor. Kondisi ini berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat apabila berlangsung dalam waktu yang lama.
Masyarakat pun diharapkan ikut berkontribusi dalam memperkuat perekonomian nasional, salah satunya dengan lebih mencintai dan mengutamakan penggunaan produk dalam negeri. Langkah tersebut dinilai dapat membantu meningkatkan daya saing industri nasional sekaligus mendukung penguatan ekonomi Indonesia.