Siang itu, matahari berdiri gagah di atas Desa Sumber Makmur, sebuah desa kecil di pesisir Provinsi Bengkulu provinsi yang kerap dijuluki Bumi Rafflesia, tanah subur yang menyimpan keindahan sekaligus tantangan hidup bagi warganya.
Teriknya menusuk kulit, membuat bayangan orang-orang tampak pendek di tanah. Udara bergetar, bercampur debu tipis yang beterbangan bersama hembusan angin. Dari kejauhan, deru mesin truk besar terdengar, kian lama kian keras, memecah keheningan siang yang menyengat.
Ban-ban raksasa menggilas lumpur yang mulai mengering, meninggalkan jejak berliku di tanah merah. Truk berhenti, mesin meraung. Bak perlahan terangkat. “Kreeek…” suara besi beradu, lalu brakkk! Batu-batu koral berhamburan jatuh, menghantam tanah dengan gemuruh seperti guntur yang menyalak di tengah hari bolong.
Debu mengepul, bercampur dengan aroma tanah basah yang menusuk hidung. Dari kebun di pinggir jalan, beberapa warga yang sedang memanen sawit ikut berhenti bekerja. Dengan parang masih di tangan, mereka menyandarkan tandan buah sawit di bahu, lalu berdiri memandang ke arah jalan. Peluh menetes di wajah mereka, namun senyum merekah ketika menyaksikan batu-batu koral itu menutup lumpur.
Sosok berseragam loreng berdiri tegak. Sepatu PDL-nya sudah penuh lumpur, di lengannya melingkar ban merah bertuliskan Dansatgas. Dialah Letnan Kolonel Inf Yokki Firmansyah, Dandim 0428/Mukomuko yang bahkan belum genap sebulan menjabat, namun sudah harus memikul tanggung jawab besar.
Sorot matanya tajam, mengikuti arah jatuhnya batu-batu koral. Sesekali ia menunduk, memastikan setiap titik jalan mendapat perhatian. Lalu suaranya terdengar tegas, menembus bising mesin dan riuh warga:
“Tambahkan material di bagian situ! Jangan biarkan lumpur menelan jalan ini lagi.”
Instruksi singkat itu disambut cepat oleh anggota Satgas. Beberapa prajurit bergerak ke titik yang ditunjuk, warga yang semula hanya menonton ikut turun tangan tanpa diminta. Siang yang terik, lumpur yang lengket, dan debu yang menusuk hidung tak lagi dipedulikan. Semua mata kini tertuju pada satu hal, jalan baru yang sedang lahir di tanah mereka.
Drainase & Gotong Royong
Instruksi Dansatgas seolah menjadi aba-aba tak tertulis. Satgas TMMD Kodim 0428/Mukomuko bergerak cepat, warga menyusul, dan seketika desa yang biasanya lengang berubah menjadi panggung kerja besar.
Di sisi kiri jalan, suara mesin excavator meraung. Besi panjangnya mencabik tanah, mengangkat bongkahan lumpur, lalu menjatuhkannya di tepi parit dengan suara dug-dug berat. Dari jauh, terlihat seperti seekor hewan baja yang lapar, mencakar tanah tanpa henti.
Namun, mesin itu tak bekerja sendiri. Di belakangnya, puluhan pasang tangan manusia ikut berperan. Satgas dengan seragam loreng, bercampur warga desa dengan kaos lusuh dan sandal jepit, mengayunkan cangkul dan sekop. Ayunan besi menimbulkan bunyi berulang, tak-tak-tak, menyatu dengan dengung mesin.
Peluh menetes deras, menodai wajah dan pakaian, namun tak ada yang mengeluh. Justru tawa kecil sesekali pecah di antara mereka, ketika seorang bocah tiba-tiba ikut mengangkat sekop terlalu besar untuk tubuh mungilnya. “Berat, Pak!” serunya, disambut gelak tawa warga dan satgas TMMD yang langsung mengajarinya cara mengangkat.
Sementara itu, di titik rawan banjir, pekerjaan lebih berat menanti. Gorong-gorong besar diturunkan satu per satu. Tenaga manusia tak cukup, tali dan tuas besi ikut membantu. Satgas TMMD berteriak memberi komando, warga mendorong dengan sekuat tenaga. Keringat bercucuran, kaki terpeleset lumpur, tapi semua bergerak dalam irama yang sama irama gotong royong.
Dan ketika gorong-gorong terakhir terpasang dengan mulus, terdengar sorak sorai dari kerumunan. Bukan sorak kemenangan yang gegap gempita, tapi sorak penuh kelegaan. Seakan mereka baru saja menaklukkan penghalang lama yang membuat jalan desa selalu tergenang.
Dari pagi hingga siang menjelang sore, suara mesin, dentuman batu, teriakan komando, dan tawa warga berpadu menjadi satu musik besar. Musik kehidupan yang menandai desa ini sedang berubah.
Rumah Baru, Martabat yang Pulang
Tak jauh dari lokasi pekerjaan jalan, berdiri sebuah rumah reyot yang nyaris roboh. Dinding papan miring, atap seng bocor penuh tambalan karat, dan lantai tanah padat yang dingin bila hujan, panas bila kemarau. Di situlah Pak Sobriyanto, seorang buruh tani sawit, selama ini berteduh bersama keluarganya.
Ia menatap rumah itu lama, lalu dengan suara lirih bercerita,
“Kalau hujan, kami tidur sambil memeluk ember. Air menetes dari atap ke mana-mana. Anak-anak terbangun, menangis karena dingin.”
Kalimatnya sederhana, namun suaranya bergetar. Matanya basah, seolah setiap kata adalah potongan luka yang sudah lama ia simpan.
Kini, rumah itu berubah di depan matanya. Satgas TMMD Kodim 0428/Mukomuko dan warga bergotong royong membongkar dinding lapuk, menggantinya dengan papan baru yang tegak dan kuat. Atap bocor diganti seng yang kokoh, berkilau disinari matahari. Lantai tanah disemen, memberi rasa bersih dan nyaman yang belum pernah ia rasakan.
Di sore hari, ketika cat terakhir dioleskan ke dinding, Sobriyanto berdiri terpaku di depan rumah barunya. Ia mengusap wajah dengan tangan kotor penuh debu, berusaha menahan air mata yang tetap jatuh juga.
“Ini bukan sekadar rumah. Ini martabat saya yang kembali. Kini saya bisa melindungi keluarga saya dengan tenang,” ujarnya pelan, tapi jelas. Di sekelilingnya, warga tersenyum, prajurit menepuk bahunya. Siang yang panas berubah jadi sore yang hangat, hangat oleh rasa kebersamaan dan syukur.
Menjaga Sehat, Mengangkat Martabat
Di sudut lain Desa Sumber Makmur, berdiri sebuah bangunan kecil yang sudah lama menjadi beban warga MCK umum. Dindingnya berlumut, pintunya patah, lantainya licin oleh genangan air kotor. Setiap kali harus memakainya, warga kerap menunduk malu. Bukan karena ingin, tapi karena terpaksa.
Namun kini, suasana berbeda. Palu beradu, papan baru dipasang, semen dituang untuk memperkuat lantai. Prajurit dan warga bekerja bergantian, tak ada yang canggung, semua seolah punya misi yang sama: mengembalikan martabat.
Anak-anak menonton dari kejauhan, sesekali berlari mendekat lalu tertawa saat melihat cat segar mulai menutup dinding lama. Tak lama lagi, mereka tak perlu lagi merasa jijik atau takut terpeleset. MCK itu perlahan berubah menjadi ruang bersih, rapi, dan layak. Sebuah tempat kecil, tapi dengan makna yang besar: kesehatan dan kebersihan bukan lagi mimpi, tapi kenyataan yang bisa dirasakan setiap hari.
Air Kehidupan dari Perut Bumi
Jika jalan adalah nadi, maka air adalah jiwa. Di Desa Sumber Makmur, jiwa itu lama terasa haus. Bertahun-tahun warga menggantungkan hidup pada sumur keruh dan tadahan hujan. Saat kemarau panjang, air bersih jadi barang mewah, hanya bisa diperoleh setelah berjalan jauh dengan jerigen di tangan.
Hari itu, mesin bor berdiri tegak di tanah desa. Suaranya meraung, menembus lapisan bumi. Warga berkumpul, anak-anak memeluk ember kosong, menunggu dengan wajah penuh harap. Detik demi detik terasa panjang, seolah seluruh desa menahan napas.
Lalu “Buuuuussshhhhh…!!!”
Semburan pertama muncul. Air memancar deras, membasahi tanah yang kering. Anak-anak berteriak kegirangan, berlari menghampiri, tak peduli basah kuyup.
“Terimakasih oak TNI, sudah membuatkan sumur ,” ucap Pak Darwis dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca.
Lima titik sumur bor dibangun di desa. Ada yang berdiri di dekat pura, simbol kebersamaan lintas iman. Ada pula di madrasah, tempat santri belajar dan beribadah tanpa harus berjalan jauh mencari wudhu. Semua titik itu seperti mata air baru, menyemburkan harapan dan syukur.
Di bawah terik siang, air itu berkilauan. Tidak sekadar cairan bening, tapi lambang kehidupan baru bahwa Desa Sumber Makmur tak lagi haus, tak lagi merasa ditinggalkan.
Ketahanan Pangan, Sawah Harapan Baru
Di ujung desa, terhampar sebidang tanah yang sebelumnya dibiarkan kosong. Kini, tanah itu dipenuhi jejak cangkul dan lumpur basah. Prajurit Satgas TMMD bersama warga desa bergotong-royong mengubahnya menjadi hamparan sawah.
Air dialirkan dari parit kecil buatan, membasahi petakan demi petakan yang disusun rapi. Suara cipratan lumpur bercampur dengan tawa anak-anak yang ikut berlarian di pematang, membuat suasana begitu hidup.
Letda Cku Iim Sudjanak berdiri di tengah sawah, sepatu sudah berlumur lumpur. Dengan tangan teracung ia memberi aba-aba, “Tarik garisnya lurus, biar petak sawah ini rapi. Kelak hasilnya bisa kita panen bersama.”
Para petani desa mengangguk, senyum merekah di wajah mereka. Bagi sebagian besar warga yang selama ini bergantung pada sawit, melihat sawah baru tumbuh di desanya adalah harapan lain harapan akan kemandirian pangan.
Sawah itu mungkin hanya satu hektar. Namun bagi Desa Sumber Makmur, ia adalah tanda awal lahirnya kemandirian tetesan keringat yang kelak berbuah jadi sumber kehidupan.
Menyemai Kesadaran, Menumbuhkan Harapan
Di balik dentuman alat berat dan gemuruh truk yang menumpahkan batu, ada denyut lain yang lebih halus namun tak kalah penting pembangunan manusia.
Setiap hari, balai desa Sumber Makmur tak pernah sepi. Di siang terik, ibu-ibu berkumpul rapi, duduk bersila, wajah mereka penuh rasa ingin tahu. Mereka mengikuti penyuluhan kesehatan dan keluarga berencana. Dari gizi seimbang, perawatan ibu hamil, hingga pentingnya menjaga anak dari stunting. Sesekali terdengar tawa kecil saat bidan desa memberi contoh, tapi di balik itu ada kesadaran baru yang lahir bahwa menjaga keluarga sehat adalah pondasi pertama menuju desa sejahtera.
Tak jauh dari sana, suara lantang terdengar. Para pemuda desa duduk tegap, mendengarkan penyuluhan hukum dan bahaya narkoba. Seorang Babinsa berbicara tegas, “Kami ingin pemuda Sumber Makmur bebas narkoba, kuat untuk bangsa.” Kata-kata itu menggetarkan dada mereka, membuat tatapan semakin serius, seakan janji tak tertulis baru saja diikrarkan di ruang sederhana itu.
Di sekolah desa, suasana berubah khidmat. Anak-anak dengan seragam sederhana duduk berjejer, mata mereka berbinar mendengarkan kisah perjuangan bangsa. Materi wawasan kebangsaan dan bela negara membuat mereka bangga. Di dahi kecil itu, seolah berkibar bendera merah putih, tumbuh bersama tawa polos yang menyimpan harapan.
Sementara itu, para petani tak tinggal diam. Mereka berkumpul di tepi sawah, mengikuti penyuluhan pertanian dan lingkungan hidup. Mereka belajar cara menjaga kesuburan tanah, menanam tanpa merusak alam, dan mengelola hutan dengan bijak. Setiap catatan yang dibuat bukan hanya teori, melainkan ilmu baru yang siap diwariskan ke generasi berikutnya.
Di posyandu desa, kader sibuk menimbang balita, memeriksa kesehatan, dan memberi vitamin. Senyum ramah mereka menyelimuti suasana, membuat ibu-ibu lega, seolah setiap anak yang ditimbang adalah titipan bangsa yang harus tumbuh kuat.
Semua kegiatan itu berpadu, melengkapi suara mesin truk dan raungan ekskavator. TMMD ke-125 bukan hanya membangun jalan, mushola, rumah, atau sumur. Ia membangun kesadaran, menyalakan pengetahuan, dan menumbuhkan manusia.
Kehadiran Sang Penyemangat
Hari itu, Desa Sumber Makmur terasa berbeda. Udara masih panas, namun jalan yang mulai tertata membuat suasana tampak lebih hidup. Anak-anak sekolah berdiri rapi di pinggir jalan dengan seragam sederhana, bendera merah putih kecil berkibar di tangan mereka. Warga berbondong-bondong datang, sebagian duduk di bawah pohon, sebagian berdiri menanti tamu penting yang kabarnya akan hadir.
Tak lama kemudian, iring-iringan mobil memasuki desa. Debu kembali terangkat, tapi tak ada yang mengeluh. Justru tepuk tangan dan sorakan anak-anak menyambut kedatangan Brigjen TNI Heri Susanto, Ketua Tim Wasev Sterad Mabesad. Dengan langkah mantap, ia menelusuri jalan yang baru ditimbun batu koral, sesekali menepuk bahu prajurit yang sedang bekerja, lalu menyapa warga dengan senyum hangat. “Inilah bukti nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat,” ucapnya lantang. Kalimat itu disambut tepuk tangan meriah, membuat banyak warga terharu.
Tak hanya Brigjen Heri, Wakil Bupati Mukomuko, Rahmadi AB, juga turut hadir memberi semangat. Dengan singkat ia berkata, “TMMD adalah bukti nyata TNI bersama rakyat. Pemerintah daerah mendukung penuh, karena ini demi kesejahteraan masyarakat kita.” Ucapannya sederhana, namun cukup untuk menegaskan kebersamaan pemerintah dan TNI di tengah rakyat.
Desa yang dulunya sunyi, becek, dan tertinggal, kini berdenyut dengan semangat baru. Jalan yang mulai terbentang, drainase yang teratur, mushola yang dicat ulang, hingga sumur bor yang mengalirkan air bersih semua menjadi bukti kerja keras bersama. Kehadiran pemimpin, baik dari TNI maupun pemerintah daerah, menjadi obor penyemangat bahwa TMMD bukan hanya singkatan dari TNI Manunggal Membangun Desa, tetapi juga Tunas Mimpi, Menjadi Doa doa yang pelan-pelan terkabul di tanah Sumber Makmur.
Kesuksesan yang Lahir dari Keringat Satgas dan Gotong Royong Warga
Kesuksesan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125 di Desa Sumber Makmur, Kecamatan Lubuk Pinang, Kabupaten Mukomuko, tidak datang begitu saja. Jalan baru yang kini terbentang, drainase yang rapi, hingga sawah yang kembali hidup, semuanya lahir dari keringat, semangat, dan pengorbanan para prajurit Satgas TMMD Kodim 0428/Mukomuko bersama warga desa.
Sejak hari pertama, tantangan sudah menunggu. Teriknya matahari membuat kulit terasa terbakar, hujan deras malam mengubah tanah jadi lumpur lengket, nyamuk hutan berterbangan tanpa henti, hingga beratnya material yang harus diangkut ke lokasi. Namun tak satu pun prajurit terlihat menyerah.
“Tidur di posko sederhana, makan seadanya, itu semua bukan masalah. Yang penting, jalan ini selesai dan bisa dinikmati warga,” ujar seorang prajurit dengan senyum tipis, meski tubuhnya basah kuyup oleh keringat.
Setiap hari mereka bahu-membahu ada yang mengangkat karung koral, ada yang menggali parit drainase dengan sekop, ada pula yang membantu petani menanam bibit padi di sawah. Semua pekerjaan dilakukan dengan disiplin militer, tapi juga penuh keakraban bersama warga.
Gotong royong menjadi kunci. Saat Satgas membawa material, warga ikut membantu dengan tenaga seadanya. Ketika Satgas menggali drainase, para pemuda desa ikut turun tangan. Bahkan ibu-ibu tak mau tinggal diam mereka memasak makanan hangat untuk prajurit, agar semangat tetap terjaga.
Di balik kerja keras itu, ada kisah-kisah kecil yang membekas. Seorang prajurit muda terlihat mendorong motor pengangkut sawit milik warga yang terjebak lumpur. Meski seragam lorengnya penuh tanah, ia tetap tersenyum ketika motor itu akhirnya bisa lolos. “Kalau bukan karena tentara, mungkin saya sudah tak sanggup,” ucap si pemilik motor dengan mata berkaca-kaca.
Ada pula saat hujan deras mengguyur malam, beberapa prajurit tetap berjaga di lokasi, memastikan material tidak hanyut. Di lain hari, prajurit yang tubuhnya basah kuyup tetap ikut menanam padi bersama warga di sawah. “Biar pun becek, ini demi masa depan pangan desa,” ucapnya ringan.
Keringat yang jatuh di tanah Desa Sumber Makmur bukanlah sekadar bukti kerja keras. Ia adalah simbol nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat. TMMD bukan hanya soal membangun jalan atau drainase, melainkan membangun harapan dan kebersamaan.
Kini, jalan yang dulunya becek sudah bisa dilalui. Drainase mengalir lancar. Sawah kembali ditanami. Dan lebih dari itu, warga merasakan kehadiran TNI bukan hanya sebagai pasukan berseragam, melainkan sahabat, keluarga, dan bagian dari mereka.
Kesuksesan TMMD di Desa Sumber Makmur menjadi bukti ketika prajurit dan rakyat bergandeng tangan, tak ada rintangan yang terlalu berat.
Jejak yang Tak Pernah Hilang
Senja merambat di Desa Sumber Makmur. Matahari perlahan turun, menyisakan cahaya jingga yang menyapu sawit-sawit di kejauhan. Deru mesin alat berat berhenti, sekop-sekop disandarkan, dan suara tawa warga bercampur letih mulai terdengar. Hari itu, satu lagi langkah besar telah ditorehkan.
Di jalan yang kini mengeras oleh tumpukan koral, anak-anak berlari sambil menendang bola plastik. Di dekat sumur bor, ibu-ibu menimba air bersih dengan wajah bahagia. Di mushola yang baru dipoles cat, terdengar lantunan ayat suci merdu. Semua tampak sederhana, tapi menyimpan makna mendalam: perubahan nyata telah hadir di desa ini.
Namun di balik itu semua, berdirilah sosok-sosok berjubah loreng. Wajah mereka basah oleh keringat, seragamnya penuh lumpur, tetapi sorot matanya menyala. Prajurit Satgas TMMD Kodim 0428/Mukomuko telah membuktikan, bahwa pengabdian bukan sekadar kata-kata, melainkan kerja nyata yang ditinggalkan sebagai warisan. Mereka tidak hanya membangun jalan, rumah, atau sumur. Mereka membangun harapan, menanam kebersamaan, dan meninggalkan jejak persaudaraan yang tak akan pernah pudar.
Kini, tepat di usia ke-80 tahun kemerdekaan, Indonesia menerima hadiah istimewa dari pelosok negeri: lahirnya semangat baru di Desa Sumber Makmur. TMMD telah menegaskan kembali makna kemerdekaan—bahwa merah putih tidak hanya berkibar di langit, tetapi juga hidup dalam setiap tetes keringat, setiap langkah gotong royong, setiap senyum rakyat yang merasakan hasilnya.
Jejak itu akan selalu ada. Jejak yang sederhana, namun abadi. Jejak yang mengingatkan kita bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika TNI dan rakyat berdiri bersama, bahu-membahu, demi masa depan bangsa.
Inilah persembahan terbaik, hadiah terindah, untuk Indonesia di HUT RI ke-80 bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan kebersamaan yang memerdekakan.
Seorang warga tua, dengan mata berkaca-kaca, berbisik pelan sambil menatap ke arah para prajurit, “Jalan ini mungkin suatu hari rusak lagi, rumah bisa lapuk, sumur bisa kering. Tapi apa yang kalian tinggalkan di hati kami… itu tidak akan pernah hilang.”
Dan di langit yang mulai berwarna ungu, terdengar suara komando Letnan Kolonel Inf Yokki Firmansyah, Dansatgas TMMD 125, lantang namun penuh kehangatan:
“Semua ini bukan hanya pembangunan fisik. Ini adalah bukti bahwa TNI dan rakyat selalu satu.”
Maka, di Desa Sumber Makmur, sejarah kecil pun tercipta. Sebuah desa yang dulu terjebak dalam lumpur kini melangkah dengan mantap menuju masa depan. Dan semua orang tahu, di balik setiap batu koral, setiap tetes air, setiap ladang hijau, dan setiap tawa anak-anak, ada perjuangan tanpa pamrih dari prajurit loreng penjaga harapan yang tak kenal lelah.
Penulis : Indra Dwi Saputra