Jembatan Menuju Desa Cawang Kian Mengerikan, Kades Khawatir Korban Jiwa Tinggal Menunggu Waktu!

Jembatan Menuju Desa Cawang Kian Mengerikan, Kades Khawatir Korban Jiwa Tinggal Menunggu Waktu!

Seluma, Bengkulutoday.com -- Derit papan kayu terdengar setiap kali roda kendaraan melintas. Sebagian papan sudah lapuk, beberapa patah, dan tidak sedikit yang renggang hingga menyisakan lubang menganga. Di bawahnya, aliran Sungai Air Paungan mengalir tenang.

Namun bagi warga Desa Cawang, Kecamatan Lubuk Sandi, Kabupaten Seluma, ketenangan itu justru menyimpan kecemasan.

Sebab, Jembatan Air Paungan yang menjadi satu-satunya akses keluar masuk desa kini berada dalam kondisi yang semakin memprihatinkan. Setiap hari, warga harus mempertaruhkan keselamatan saat melintasi jembatan yang terus menua dan belum kunjung diperbaiki tersebut.

Pagi, siang, maupun sore, jembatan itu tak pernah sepi. Warga melintas untuk bekerja, berbelanja, mengurus keperluan keluarga, hingga membawa hasil kebun. Anak-anak sekolah tingkat SMP dan SMA pun harus melewati jembatan yang sama setiap hari untuk menuntut ilmu.

Desa Cawang Seluma

Tidak ada jalur alternatif.

Jika jembatan itu putus atau tidak bisa dilalui, aktivitas masyarakat Desa Cawang praktis akan lumpuh.

"Ya. Kami selaku pemerintah Desa Cawang mohon agar jembatan tersebut bisa segera diperbaiki. Karena itu adalah satu-satunya jalan keluar dari desa kami selama ini," kata Kepala Desa Cawang, Wenra, saat ditemui media ini, Jumat (12/6/2026).

Menurut Wenra, kondisi jembatan saat ini sudah jauh dari kata aman. Kayu-kayu yang menjadi lantai jembatan terus mengalami pelapukan akibat usia dan cuaca. Setiap hari, risiko kecelakaan mengintai para pengguna jalan.

Ia mengaku khawatir jika kondisi tersebut terus dibiarkan tanpa penanganan.

"Kalau lambat ditindaklanjuti, kami khawatir bisa menelan korban. Apalagi anak-anak sekolah juga setiap hari lewat di situ," ujarnya.

Desa Cawang Seluma
Wenra, Kades Cawang. (Bengkulutoday.com/Franky) 

 

Kekhawatiran itu bukan sekadar dugaan. Wenra mengatakan, sebelumnya sudah ada warga yang mengalami kecelakaan akibat kondisi jembatan yang rusak.

"Sudah pernah ada yang jatuh karena kayunya lapuk," katanya.

Ironisnya, persoalan itu bukan hal baru. Keluhan demi keluhan telah berulang kali disampaikan kepada berbagai pihak. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda perbaikan akan dilakukan.

Wenra mengungkapkan, dirinya sudah mendatangi berbagai instansi untuk mengadukan kondisi Jembatan Air Paungan. Mulai dari pemerintah daerah, DPRD Kabupaten Seluma, pemerintah kecamatan, hingga pihak-pihak terkait lainnya.

Bahkan pada tahun 2024 lalu, Bupati Seluma bersama sejumlah anggota DPRD pernah turun langsung meninjau lokasi.

Saat itu, warga sempat berharap ada langkah nyata yang segera dilakukan.

Namun harapan tersebut belum menjadi kenyataan.

"Tahun 2024 dulu, Bupati pernah turun langsung melihat kondisi jembatan itu, disaksikan anggota DPRD. Aduan sudah kami sampaikan, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut," ujar Wenra.

Perbaikan terakhir justru dilakukan secara swadaya oleh masyarakat pada tahun 2024. Warga bergotong royong mengganti sebagian papan yang rusak agar jembatan tetap bisa digunakan.

Dua tahun berselang, kayu-kayu itu kembali lapuk.

Desa Cawang Seluma

Sebagian papan kini tampak rapuh dan berlubang. Pengendara sepeda motor harus ekstra hati-hati saat melintas. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, mereka berisiko terjatuh ke sungai di bawahnya.

Di tengah kebuntuan itu, Wenra mengaku mulai kehabisan cara untuk memperjuangkan perbaikan jembatan yang menjadi urat nadi desanya.

"Saya sudah ke sana ke mari mengadukan masalah jembatan ini. Sudah ke pemda, DPRD, kecamatan, dan berbagai pihak lainnya. Tapi sampai sekarang belum juga ada solusi," katanya.

Dengan nada yang terdengar pasrah, ia lalu melontarkan kalimat yang menggambarkan kekecewaan sekaligus kegelisahan masyarakat yang selama ini bergantung pada jembatan tersebut.

"Mungkin nanti tinggal mengadu ke Tuhan saja lagi. Nunggu ada korban jiwa dulu, baru pemerintah peduli," ujar Wenra.

Kalimat itu mungkin terdengar keras. Namun bagi warga Desa Cawang, itu adalah cerminan dari rasa frustrasi yang telah lama terpendam.

Sebab bagi mereka, Jembatan Air Paungan bukan sekadar bangunan penghubung dua wilayah. Jembatan itu adalah jalan menuju sekolah, pasar, kebun, fasilitas kesehatan, dan berbagai kebutuhan hidup lainnya. (Frk)