Soroti Stigma dan Impitan Ekonomi Mantan Napi, Kalapas Curup: Ini yang Kami Beri Atensi Khusus!

Kepala Lapas Kelas IIA Curup, Untung Cahyo Sidharto, saat diwawancarai di Lapas Kelas IIA Curup, Selasa (28/7/2026). (Bengkulutoday.com/Hendra)

Rejang Lebong, Bengkulutoday.com - Keberhasilan program pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Curup, Bengkulu, menunjukkan tren yang sangat positif. Angka warga binaan yang kembali terjerat hukum atau residivis tercatat sangat minim, yakni hanya berada di kisaran satu persen dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Kepala Lapas Kelas IIA Curup, Untung Cahyo Sidharto, mengungkapkan bahwa pengulangan tindak pidana secara global di wilayahnya tidak terlalu signifikan. Mayoritas warga binaan yang telah menyelesaikan masa hukuman mampu berintegrasi dengan baik di tengah masyarakat.

"Kalau secara global untuk residivis tidak terlalu ya. Paling dalam pengulangan tindak pidana hanya satu dua orang dalam satu tahun ini. Mereka kembali masuk ke lapas dengan kasus yang sama, seperti kasus pencurian dan narkoba," ujar Untung saat diwawancarai langsung di Lapas Kelas IIA Curup, Selasa (28/7/2026).

Menurut Untung, keberhasilan ini tidak terlepas dari optimalisasi program integrasi sosial yang diterapkan pihak Lapas. Melalui program ini, petugas secara ketat menilai perkembangan perilaku dan kepribadian warga binaan selama berada di dalam tahanan.

"Tingkat keberhasilan daripada pembinaan persentasenya lebih besar. Kita memiliki program integrasi untuk menilai bagaimana warga binaan berkelakuan baik dan kepribadiannya meningkat. Alhamdulillah, keberadaan mereka diterima dan didukung dengan baik oleh masyarakat," imbuhnya.

Menelisik lebih dalam, Untung menjelaskan bahwa akar persoalan residivisme umumnya dipicu oleh faktor ekonomi dan kesiapan mental setelah bebas. Masalah rendah diri (minder), kesulitan mencari pekerjaan, serta adanya stigma negatif dari sebagian kelompok masyarakat seringkali membuat mantan narapidana frustrasi hingga akhirnya kembali menempuh jalan pintas.

"Faktor utamanya adalah ekonomi dan lingkungan. Ketika mereka merasa sulit mencari pekerjaan dan menghadapi stigma masyarakat, muncul rasa minder dan rendah diri. Pikiran yang kacau tersebut memicu mereka bertindak kriminal lagi, terutama pada kasus pencurian karena merasa tidak memiliki keahlian lain. Namun, kemungkinan itu tetap kita atensi dan antisipasi," jelasnya.

Untuk memutus rantai tersebut, Lapas Kelas IIA Curup menitikberatkan pembinaan pada aspek kepribadian, khususnya penguatan spiritual dan keagamaan. Bagi warga binaan yang beragama Islam, kewajiban ibadah seperti salat lima waktu dan pemahaman moral keagamaan terus ditekankan.

"Orang yang melakukan pelanggaran hukum pada dasarnya bermuara pada masalah moral keagamaan yang mungkin goyah karena faktor emosional. Dengan dibekali spiritual, itu menjadi modal dasar mereka untuk menahan diri dari perbuatan melanggar hukum. Ketika ada niat jahat, mereka akan ingat pada Yang Maha Kuasa bahwa tindakan tersebut berdosa dan merugikan orang lain," urai Kalafas.

Menyikapi tantangan warga binaan yang kerap keluar masuk lapas hingga lebih dari satu kali, Untung mengaku hal tersebut menjadi perhatian dan pekerjaan rumah (PR) khusus bagi jajarannya. Pihak Lapas terus memutar otak untuk merancang program kemandirian yang aplikatif.

Salah satu langkah nyata yang kini berjalan adalah pemberdayaan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di dalam Lapas, seperti pelatihan memasak dan usaha kuliner sederhana.

"Itu jadi tantangan dan atensi khusus kita. Kita berdayakan mereka melalui UMKM kecil-kecilan, seperti belajar memasak atau membuat gorengan. Yang tadinya belum pernah menggoreng, kita latih. Ketika bebas, keahlian ini bisa langsung diterapkan walaupun berskala kecil, namun sangat berarti bagi kehidupan mereka," kata Untung.

Tak berhenti di situ, Lapas Kelas IIA Curup juga tengah menyusun target besar untuk mengembangkan unit usaha pembuatan roti mandiri yang diberi nama 'Harum Bakery'. Program ini diproyeksikan dapat terealisasi paling lambat tahun depan.

"Ke depan kami berencana mengembangkan program 'Harum Bakery' agar warga binaan bisa memproduksi roti sendiri. Saat ini saya sedang konsolidasikan dengan rekan-rekan petugas untuk mengembangkan produk roti sederhana yang sesuai dengan selera masyarakat di sini. Mudah-mudahan bisa terealisasi tahun depan atau secepatnya tahun ini," terangnya optimis.

Guna memastikan seluruh program pembinaan dan pengamanan berjalan selaras demi memberikan kontribusi positif bagi dunia pemasyarakatan, Untung menegaskan pentingnya penguatan internal. Komitmen, integritas, dan moralitas para petugas Lapas menjadi fondasi utama dalam mengawal perubahan perilaku warga binaan secara berkelanjutan. (Hendra)