Rejang Lebong, Bengkulutoday.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Curup terus mematangkan program pembinaan kemasyarakatan bagi warga binaan.
Langkah strategis ini difokuskan pada dua aspek krusial, yakni pembinaan kemandirian dan pembinaan kepribadian, guna memastikan mereka siap kembali dan diterima dengan baik oleh masyarakat setelah bebas kelak.
Kepala Lapas Kelas IIA Curup, Untung Cahyo Sidharto mengungkapkan, keberhasilan program-program tersebut tidak lepas dari kolaborasi erat yang dibangun dengan berbagai pihak eksternal, mulai dari sektor keagamaan hingga sektor pertanian.
"Untuk pembinaan yang kita lakukan sesuai dengan fungsi kemasyarakatan, yaitu pembinaan kemandirian dan pembinaan kepribadian. Pelaksanaan program ini alhamdulillah berjalan dengan baik berkat kerja sama dengan pihak terkait," kata Untung Cahyo Sidharto, Kamis (25/6/2026).
Pada ranah pendidikan dan spiritual, Lapas Curup memfasilitasi warga binaan untuk menempuh jalur formal kesetaraan lewat program Kejar Paket A, B, dan C, bekerja sama dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) setempat.
Tak hanya itu, penguatan karakter religius juga dilakukan secara mandiri melalui program baca tulis Al-Qur'an. Program ini memanfaatkan potensi internal, baik dari petugas Lapas maupun warga binaan yang sudah mahir untuk membimbing rekan-rekan mereka yang belum bisa mengaji.
Sementara pada sektor kemandirian, pihak Lapas memaksimalkan pemanfaatan lahan produktif di dalam area Lapas untuk mendukung program ketahanan pangan nasional. Lahan tersebut dikelola secara intensif dengan menanam berbagai komoditas hortikultura yang memiliki siklus panen cepat.
"Sebulan sekali kita bisa memproduksi sayuran segar mulai dari kangkung, kacang panjang, labu siam, sawi, hingga cabai. Ini bagian dari langkah nyata mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya untuk wilayah Curup," jelasnya.
Menjaga kondisi Lapas tetap kondusif menjadi target utama manajemen guna memastikan seluruh agenda pembinaan berjalan mulus. Antisipasi terhadap peredaran narkoba, praktik penipuan, hingga penggunaan ponsel ilegal terus diperketat.
Aspek pengamanan juga diperkuat melalui kehadiran personel Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pihak Lapas secara khusus menyediakan pos pengamanan bersama di lingkungan dalam untuk mendukung kelancaran pemantauan.
"Kerja sama ini wujud dari sinergitas kami dengan pihak keamanan. Lapas yang aman dan kondusif secara otomatis akan membuat seluruh program pembinaan berjalan dengan lancar. Jika kondisi tidak aman, tentu akan mengganggu jalannya pembinaan," urai Untung.
Di sisi lain, perbaikan mutu pelayanan tidak hanya ditujukan bagi warga binaan dan pengunjung, melainkan juga menyasar internal pegawai. Mengingat kompleksitas dan dinamika kerja di lingkungan Lapas, aspek kesehatan fisik serta pendampingan psikologis bagi para petugas turut diperhatikan.
Melalui bekal kepribadian dan keterampilan yang matang selama di Lapas, warga binaan diharapkan memiliki rasa tanggung jawab baru dan tidak kembali mengulangi pelanggaran hukum.
Untung berharap masyarakat luas dapat memberikan dukungan moral dan membuka pintu penerimaan tanpa stigma negatif saat mereka kembali ke lingkungan sosial.
"Kami berharap masyarakat bisa mendampingi mereka untuk menjadi lebih baik. Di sini mereka dididik hingga ada yang menjadi santri. Ketika keluar nanti, harapannya mereka bisa mengaplikasikannya di tengah masyarakat, misalnya dengan menjadi imam masjid atau mengajarkan mengaji bagi yang belum bisa," harapnya. (Hendra)