Situs Warisan Dunia Ada di Rejang Lebong

Air Terjun Batu Betiang

Air Terjun Batu Betiang yang eksotis di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), adalah satu dari tiga taman nasional di Pulau Sumatera yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia.

Ada banyak keindahan yang ditawarkan pada Air Terjun Batu Betiang ini, selain keindahan alam dan kejernihan airnya yang belum tercemar sehingga dapat langsung diminum.

Air terjun batu betiang juga menawarkan eksotisme lain yakni, hamparan dinding batu yang menghiasi bentang alam Air terjun yang menyerupai balok-balok kayu yang tersusun rapi sehingga terlihat indah.

Tinggi air terjun ini sekitar 2,5 meter. Di bagian kirinya, ratusan batu menyerupai tiang berbentuk balok dengan tinggi 10–100 cm tersusun rapi, membentuk tempat duduk sekaligus anak tangga hingga ke puncaknya. Sedangkan di sisi kanan, ratusan batu yang juga menyerupai tiang dengan tinggi hingga 500 cm tersusun rapat, membentuk dinding. Di atasnya, tumbuh banyak pohon.

Awalnya objek wisata ini baru populer sejak 2016 lalu, konon masyarakat sebagian mempercayai bahwa bebatuan yang berada di seputaran air terjun batu betiang tersebut merupakan peninggalan legenda si Pahit Lidah.

Berdasarkan cerita para tetua, batu-batu itu adalah kayu-kayu yang dikumpulkan Si Pahit Lidah. Gunanya sebagai alat penggiling padi yang memanfaatkan air terjun untuk memutar kincirnya. Belum selesai dibuat, Si Pahit Lidah mendapat musibah. Kayu-kayu itu diubahnya menjadi batu.

Kalau pun memang ada yang membuat kondisinya sedemikian rupa, saya cenderung melihat seperti dibuat untuk tempat pemandian. Apalagi diameter kolam atau lubuknya tidaklah terlalu lebar, sekitar 4 meter dan relatif tidak dalam. Arus air yang mengalir juga tidak begitu deras karena menabrak sejumlah batu berukuran besar. 

Sudah sejak lama warga Desa Babakan Baru mengetahui keberadaan air terjun. Namun, baru belakangan ini ramai dikunjungi. Bukan hanya ingin melihat hal yang eksotis, sebagian pengunjung sengaja datang bersama pacar untuk mengetahui jodoh. 

Tidak ada rintangan berarti menuju air terjun ini. Jalannya relatif datar. Sepanjang perjalanan, hanya ada dua tanjakan (yang kemiringannya sekitar 40 derajat), dan tidak perlu khawatir tersesat. Papan atau kayu penunjuk arah yang dipasang warga desa terlihat jelas.

Dari Curup, Ibu Kota Rejang Lebong, kita hanya butuh waktu 15 – 20 menit dengan sepeda motor, menuju Dusun Mirasi, Desa Babakan Baru. Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan berjalan kaki sekitar dua jam, santai dan dua kali istirahat dikarenakan licin. Bila musim kemarau, waktu tempuh akan lebih cepat 30 menit.

Akses jala menuju air terjun masih berupa jalan setapak. Di Tahun 2017 lalu, pemeritah daerah meminta Tim Kajian pembangunan jalan menuju obyek wisata Air Terjun Batu Betiang pada Zona Pemanfaatan TNKS dari Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam, Direktorat Kawasan Konservasi, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat untuk menindaklanjut permohonan dari Pemerintah Daerah Rejang Lebong tentang pembangunan dan peningkatan jalan wisata menuju  obyek wisata air terjun Batu Betiang selain itu juga sebagai tindak lanjut dari Kerjasama Balai Besar TNKS dengan Pemerintah Daerah Rejang Lebong tentang pengembangan obyek wisata TNKS di Kab. Rejang Lebong.

Namun, berdasarkan Hasil survei dan kajian TIM yang dilaksanakan dari tanggal 06-07 September 2017 menyimpulkan bahwa letak, kondisi dan topografi jalan menuju objek wisata air terjun Batu Betiang bergelombang dan terjal,  sehingga pembukaan jalan selebar 12 meter yang dimohon oleh Pemda Rejang Lebong dikwatirkan mempunyai dampak lebih besar karena rawan erosi. Selain itu pembukaan jalan yang lebar juga dikhawatirkan akan membuka akses atau aktifitas yang tinggi dan menimbulkan tingkat kerawanan/gangguan kawasan. (mas)