Perempuan Petani Kopi di Desa Batu Ampar Menghadapi Perubahan Iklim

Supartina petani kopi saat membersihkan helai- helai kelopak bunga kopi yang masih menempel pada bakal biji. Ini dilakukan agar bakal biji tidak ikut membusuk

Dampak perubahan iklim mulai dirasakan perempuan petani kopi di Desa Batu Ampar, Kecamatan Merigi, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Menghijaukan hutan kembali, menjadi salah satu upaya untuk menyelamatkan kehidupan dan penghidupan petani kopi dari dampak perubahan iklim.  

BETTY HERLINA Bengkulu 

Bengkulutoday.com - “Cuaca sudah tidak dapat diprediksi,” kata Supartina singkat, saat disambangi di kebun kopi miliknya. 

Hari itu, jarum jam menunjukan pukul 09. 10 WIB.  Matahari sepertinya masih malu-malu, bersembunyi di balik Bukit Hitam.  Namun Supartina sudah bergiat di kebun kopi miliknya.  Tepatnya warisan dari orang tua. Jari jemari Supartina cekatan memisahkan kelopak bunga yang masih menempel di bakal biji kopi. Ini menjadi rutinitas tambahan Supartina, di sela-sela membersihkan kebun. Jika tidak dibersihkan, kelopak bunga yang masih menempel dan sudah membusuk bisa menyebabkan bakal biji kopi ikut busuk.  Akibatnya bakal biji kopi tidak menempel. Panen hampir dipastikan gagal.  

“Biasanya setelah bunga mekar sempurna, sedikit hujan dan sedikit angin saat hari panas membantu kelopak bunga ini jatuh.  Namun sekarang hujan dan panas tidak bisa ditebak. Kalau sudah dibersihkan seperti ini, bakal biji kopi biasanya menempel,” bebernya. 

Supartina Paksi, salah seorang perempuan petani kopi di Desa Batu Ampar. Ia merasakan produktivitas kopi miliknya menurun setiap tahun. Kuat dugaan, penurunan ini terjadi akibat kombinasi perubahan iklim,  hutan yang semakin banyak ditebang, dan tata kelola kebun, termasuk perubahan varietas tanaman kopi. 

Dulu robusta yang ditanam di Desa Batu Ampar memiliki ketinggian pohon lebih dari 1,5 meter dan rimbun. Untuk melakukan proses panen, Supartina harus menggunakan tangga. Masyarakat setempat menyebutnya kopi “sako” yang berarti tua.  Hasilnya stabil, satu hektar lahan petani kopi dapat menghasilkan 1,5 ton hingga 2 ton biji kopi untuk satu kali panen dalam setahun. 

Saat ini, robusta yang ditanam memiliki batang yang lebih rendah dan menerapkan pola stek. Setiap periode tanam,  Supartina hanya merasakan satu kali panen agung (panen besar,red). 

“Panen kali ini dengan dua kali berjualan hanya 600 kg. Tidak sampai Rp 10 juta. Itu hasil menunggu 1 tahun. Belakangan hasil kopi turun terus,” terang Supartina. 

Jika hidup hanya bergantung dengan hasil kopi, kata Supartina, hampir dipastikan,  masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi harga kopi di pasaran tempatnya tinggal hanya Rp 17.000 per kg di tingkat pengumpul.  

Ia bersama petani kopi lain mulai menerapkan konsep agroforestri atau polikultur. Yakni menanam kopi bersama tanaman lainnya. Ada yang menanam lada dengan memanfaatkan tanaman pelindung kopi sebagai sulurnya,  talas dan lainnya.  

“Tahun ini hanya 300 kg kopi. Padahal tahun sebelumnya bisa lebih banyak. Makin kesini hasil panen kopi makin turun.  Beruntung ada lada di kebun. Jadi saat panen kopi habis, masih bisa panen lada. Harganya lumayan Rp 40 ribu per kg,” timpal Zainuddin, yang juga salah seorang petani kopi di Desa Batu Ampar. 

Turunnya produktivitas kopi dari tahun ke tahun, juga disampaikan Akilepron. Kepala Dusun III ini menetap di Desa Batu Ampar sejak tahun 1993.  Hasil panen kopinya selalu menurun.  Dulu,  dengan kondisi cuaca di desa yang lebih dingin dan pohon yang masih rimbun, setiap 1 hektare kebun kopi bisa menghasilkan hingga 2 ton.  “Tahun ini saya hanya dapat 400 kg dari 1,5 hektare lahan,” ungkapnya. 

Hujan yang terlalu banyak pada saat kopi sedang berbunga, dikatakan Akil menjadi penyebab kopi tidak menjadi buah. “Jika cuacanya kemarau ketika kopi berbunga maka bunga kopi bisa menjadi putik.  Tapi jika musim hujan terus, sejak kopi berbunga, maka bunga itu tidak akan menjadi putik,” lanjutnya.  

Untuk menambah penghasilan, Akil memilih menanam pisang, lada dan memperbanyak pakis di pinggir kebun kopi miliknya. “Selain bisa dijual ke pasar untuk memenuhi kebutuhan dapur, pakis juga bisa membuat kebun kopi menjadi lebih lembab, dingin,” lanjutnya.  

Selain produktivitas panen kopi yang terus turun,  kemunculan insidensi penyakit yang belum pernah terjadi mulai menimpa pada kopi. Batang kopi tiba-tiba menguning, membusuk dari dalam. Akil tidak tahu persis apa penyebabnya. Ia merasa sudah melakukan perawatan tanaman kopi sesuai dengan petunjuk yang didapatkan. Tapi hasilnya tak seperti yang diharapkan. 

“Jika sudah begitu, bagaimana mau panen? Kulit batang mendadak mengelupas. Kopi mati,”  keluh Akil. 

Petani kopi harus memikirkan siasatnya sendiri. “Dosis pupuk saya atur sendiri. Tidak menggunakan ajuran yang ada.  Justru hasilnya lebih baik. Kopi tidak mati,” kata Akil penuh percaya diri. 

Bermacam upaya dilakukan petani kopi di Desa Batu Ampar untuk meningkatkan hasil. Mulai dari melakukan stek batang dan menggunakan pupuk organik. Namun hasil yang diperoleh belum maksimal. Hasil panen kopi dari tahun ke tahun terus mengalami tren produktivitas menurun. 

“Kami bahkan pernah hanya menanam kopi saja di kebun. Nyatanya batang dan daun kopi menguning semua. Kopi tidak tahan panas.  Mati,” lanjutnya. 

Bagi Akil, perubahan iklim benar-benar sudah terjadi.  Ketika duduk di bangku SD, ia diajarkan Indonesia hanya memiliki 2 musim, yakni kemarau dan hujan. Musim kemarau biasanya ditandai dengan angin yang sejuk dan matahari cerah. Lalu setelah setengah tahun berganti musim hujan.  

“Nah kalau saat ini sudah menentu lagi, musim kemarau malah hujan terus, tiba musim hujan malah kemarau,” katanya. 

Pandangan serupa disampaikan, Kades Batu Ampar, Harwan Iskandar. Munculnya beragam hama baru menjadi persoalan bagi petani kopi di Desa Batu Ampar. “Dulu hamanya hanya beruk (monyet, red), sekarang hamanya mulai ada hama bubuk dan batang yang mengelupas,” ungkapnya. 

Dampak perubahan iklim, tidak hanya dirasakan masyarakat terhadap produktivitas tanaman kopi.  Namun sudah dirasakan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.  Seperti mulai berkurangnya suhu  dingin di pagi hari.  “Saya ingat betul, dulu kalau pagi-pagi minyak goreng sampai beku. Mau masak itu minyak harus dipanaskan dulu dibawah sinar matahari. Sekarang kami sudah tidak menjumpai hal itu,” katanya.  

Kondisi ini juga diperparah dengan berkurangnya debit air Sungai Donok. Aliran sungai yang berasal dari Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba tersebut dirasakan mulai berkurang.  Sejak Desa Batu Ampar dibuka hingga saat ini, sungai Donok dapat memenuhi kebutuhan air untuk 220 kepala keluarga.  Sekaligus menjadi sumber air bagi sawah untuk beberapa desa lain di luar Desa Batu Ampar. Namun saat ini, sawah di desa sebelah sudah tidak dapat mengandalkan aliran Sungai Donok. Sawah mengalami kekeringan. Debit air yang ada sudah tidak cukup jika harus dibagi untuk areal persawahan.  

“Air yang ada bahkan perlu diatur sedemikian rupa, agar setiap rumah tetap dapat menikmati tanpa kekurangan,” ungkap Herwan.