Pentingnya Menulis Karya Ilmiah, IAIN Bengkulu Gelar Workshop Kepenulisan

Workshop kepenulisan IAIN Bengkulu

Bengkulutoday.com - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu, Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Tadris mengadakan workshop kepenulisan dengan tema "Membentuk Generasi Muda Berkarya Nyata dengan Karya Ilmiah dan Novel Kontemporer". Acara digelar di gedung serba guna IAIN Bengkulu, Jumat (20/09/2019).

Kegiatan itu dibuka langsung oleh Kepala Prodi Adi Saputra M.Pd, dan dihadiri oleh Wakil Dekan III Fakultas Tarbiyah dan Tadris Alfauzan Amin M.Ag, pemateri, juga peserta workshop dari mahasiswa IAIN Bengkulu.

Dalam sambutannya, Kaprodi PAI Adi Saputra mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan workshop ini dan berharap mahasiswa dapat mengambil manfaat dari kegiatan, terutama dari pengembangan karya ilmiah dan penulisan novel kontemporer.

Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kepekaan dan kepedulian kepada mahasiswa dalam menulis, baik menulis makalah, buku ataupun novel, sehingga mahasiswa mampu membuat karya tulis. 

Di era digital sekarang ini, mahasiswa lebih banyak membaca ketimbang menulis. Keberadaan gadget juga menjadi salah satu penyebab malasnya mahasiswa dalam membuat karya tulis. 

Lanjut Adi Saputra, dalam melakukan penelitian, setiap peneliti memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di suatu negara. 

"Terhadap lembaga/institusi yang menaunginya dan terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat. Karena itu peneliti wajib menyebarkan informasi mengenai hasil penelitiannya agar dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang membutuhkan," katanya.

Salah satu cara untuk menyebarluaskan informasi hasil penelitian adalah dengan membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI). Penulisan KTI yang baik harus memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yang telah ditetapkan. 

Berdasarkan peraturan Kepala LIPI no 06/E/2013 Tentang Kode Etika Peneliti, menjelaskan bahwa seorang peneliti harus berpegang pada nilai-nilai integritas, kejujuran, dan keadilan. Integritas peneliti melekat pada ciri seorang peneliti yang mencari kebenaran ilmiah, menegakkan kejujuran, keberadaannya diakui sebagai insan yang bertanggung jawab, menjunjung keadilan, bermartabat dan memiliki moralitas tinggi.

Lembaga maupun institusi terkait memiliki peran besar dalam menghasilkan kualitas peneliti dengan cara membekali pengetahuan dan pemahaman mengenai kode etik peneliti serta sanksi terhadap pelanggaran etika sehingga harapannya sejalan dengan pembentukan karakter peneliti yang kompeten.

Disampaikan Alfauzan, diharapakan dengan banyaknya mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini dapat memberikan bekal serta motivasi bagi para mahasiswa mengenai pentingnya melatih diri untuk mulai menulis.

"Sehingga nantinya karya tulis ilmiah yang dibuat hendaknya mengacu pada tahapan-tahapan yang telah ditetapkan. Sementara hubungannya dengan orisinalitas penulisan dan publikasi ilmiah mampu menghindarkan peneliti dari aspek penyalahgunaan penyebarluasan informasi baik plagiarisme, fabrikasi dan falsifikasi dikemudian hari," pungkas Alfauzan.

(Wln)