Pengembangan Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit (SISKA) Membuka Jendela Baru dalam Sektor Agribisnis

Pengembangan Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis jack) merupakan tanaman yang berasal dari kawasan Afrika Barat, yaitu negara Nigeria.

Menurut Fauzi (2012) mengemukakan bahwa asal tanaman kelapa sawit berasal dari negara di kawasan Amerika Selatan yaitu Brazil, hal ini dikarena di daerah Brazil lebih banyak ditemui spesies kelapa sawit dari pada di Negara Nigeria. Tetapi walaupun tanaman kelapa sawit berasal dari Nigeria dan Brazil, tanaman ini juga dapat tumbuh subur di Negara lain seperti Malaysia, Indonesia, Ghana, Thailand, dan Papua Nugini.  Kegiatan agribisnis disektor perkebunan secara monokultur telah terbukti sangat rentan terhadap resiko kerugian.

Hal ini disebabkan karena harga jual tandanan buah segar (TBS)  pada umumnya sangat fluktuatif dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, diversifikasi (penganeka-ragaman) jenis usaha baik secara terkait maupun tidak terkait dengan usaha inti merupakan upaya dalam mengurangi risiko ketergantungan terhadap kegiatan usaha perkebunan monokultur. Mengoptimalkan lingkungan perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu peluang untuk memperoleh penghasilan tambahan. Sistem integrasi sapi kelapa sawit (SISKA) merupakan sistem pemanfaatan lingkungan perkebunan kelapa sawit serta menjaga pengunaan obat dan pupuk kimia.

Pengembangan kelapa sawit pada dasarnya mempunyai nilai negatif dikarnakan suatu lahan hijauan yang dirubah menjadi lahan tanaman tahunan yang tidak bisa ditanami tanaman lainya atau sering disebut tumpang sari. Konsekuensi dari pengembangan kelapa sawit di antaranya dampak negatif terhadap lingkungan dan konflik sosial (Marti 2008).

Perkembangan bisnis kelapa sawit di Indonesia tumbuh dengan pesat dan menemui berbagai tantangan yang harus dihadapi. Adanya tuduhan yang bersifat negatif dari beberapa lembaga lingkungan mancanegara yang menyebutkan bahwa industri kelapa sawit sebagai perusak lingkungan tentunya sangat merugikan dan akan mempengaruhi pengembangan industri ini. Sebagi salah satu upaya yang dapat dilakuakn untuk meminimalisir adanya suatu kesenjangan maka dilakuan suatu sistem yang terintegrasi antara perkebunan dan peternakan. Hal ini dapat dilakukan di antaranya dengan memanfaatkan semua limbah yang berasal dari perkebunan selanjutnya dapat diolah menjadi bahan pakan ternak. Selain meminimalisir adanya limbah juga mempunyai manfaat yang sangat berarti khususnya bagi pemilik perkebunan dan pemilik ternak. Rantai makanan yang ada pada perkebunan kelapa sawit menjadikan suatu sistem yang berkelanjutan dimana sapi mendapat pakan dari rumput yang ada pada sekitar lahan kelapa sawit sedangkan ternak sapi memberikan feses yang tercecer disetiap perkebunan yang dapat digunakan oleh tanaman kelapa sawit sebagi bahan pupuk kompos yang berkelanjutan.

Pemanfaatan sumberdaya alam merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian seluruh komponen yang ada pada lingkungan sekitar kita. Pengembangan usaha peternakan sapi yang berkolaborasi dengan perkebunan kelapa sawit adalah salah satu metode yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada pada perkebunan kelapa sawit. Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit (SISKA) merupakan salah satu bentuk kolaborasi antara sektor perkebunan dan sektor peternakan. Simbiosis mutualisme (saling menguntunkan) adalah peluang yang dapat dikembangkan dengan optimal untuk menghasilkan nilai ekonomi berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan seharusnya memper-hatikan 3 aspek, yaitu ekonomi (profit), sosial (people) dan lingkungan hidup (planet), namun pelaku usaha cenderung hanya mempertimbangkan aspek ekonomi (profit). Aspek ekonomi hendaknya dijadikan suatu tolak ukur untuk menjadikan penghasilan bagi masyarakat yang mempunyai lahan perkebunan kelapa sawit, aspek sosisl merupakan suatu sistem yang harus selalu diperhatikan untuk menjamin dan menjaga kelangsungan hidup antara masyarakat dan juga lingkungan (khususnya lingkungan peternakan), aspek lingkungan hidup mencakup kesejahteraan masyarakat diantaranya dengan menjaga atau memberikan suatu permasalahan sosial diantaranya dengan rusaknya lingkungan sekitar.

Penerapan integrasi secara umum adalah memanfaatkan lahan perkebunan kelapa sawit pada perkebunan yang masih produktif, menjadikan kebun sebagai sumber pakan bagi ternak sapi, dari sisi perkebunan menjadikan biaya pemeliharaan terhadap gulma menjadi berkurang. Menurut Warsino (2013), pemeliharaan sapi melalui sistem integrasi ekstensif diketahui lebih efektif untuk lahan perkebunan, terutama dalam menghemat tenaga kerja, karena ternak dilepas bebas mencari pakan sendiri. Namun, sistem ini tidak efektif jika diterapkan untuk pemeliharaan sapi skala menengah. Pendapat yang selaras juga menyebutkan bahwa perkebunan kelapa sawit adalah lumbung pakan “tidur” yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung percepatan peningkatan populasi sapi di Indonesia (Purba et. al., 2013).

Peternakan sapi potong merupakan salah satu kegiatan yang menjadi skala prioritas, karena mempunyai  andil besar dalam memenuhi kebutuhan protein hewani yang dibutuhkan oleh masyarakat. Salah satu hewan ternak yang memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani adalah sapi potong dengan produk utama daging yang memiliki kandungan gizi baik sehingga bermanfaat dalam meningkatkan kualitas taraf hidup masyarakat. Konsumsi daging akan meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, tingkat pendapatan, dan kesadaran masyarakat, jika tidak dapat diatasi dengan baik maka akan terjadi kesenjangan antara produksi daging dengan permintaan yang dapat berakibat pada ketergantungan terhadap daging impor. Adanya konsep integrasi ini dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat yang berprofesi sebagai petani kelapa sawit maupun peternak sapi. Kesejahteraan petani dengan pola integrasi kelapa sawit dan ternak sapi sangat berpotensi meningkat dengan meningkatnya pendapatan.

Secara umum, keuntungan sistem integrasi tanaman ternak adalah :

1) diversifikasi penggunaan sumber daya,

2) mengurangi resiko usaha,

3) efisiensi penggunaan tenaga kerja,

4) efisiensi penggunaan input produksi,

5) mengurangi ketergantungan energi kimia,

6) ramah lingkungan,

7) meningkatkan produksi dan

8) pendapatan rumah tangga petani yang berkelanjutan (Handaka et. al., 2009).

Berbagai literatur dan hasil penelitian yang terkait menunjukkan bahwa potensi integrasi kelapa sawit ternak sapi sangat besar di beberapa wilayah di Indonesia, baik untuk mendukung tercapainya swasembada daging maupun usaha peningkatan kesejahteraan petani-peternak.

***

Cahyardi Ricky Kurniawan S Pt, Dr Reflis SP M Si, Mahasiswa dan Dosen Magister Pemanfaatan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Bengkulu.

Sumber :

Fauzi. 2012. Budidaya Pemanfaatan Hasil Limbah, Analisis Usaha dan Pemasaran. Penebar Swadaya. Jakarta.

Marti, S., 2008. Losing ground The human rights impacts of oil palm plantaton expansion in Indonesia. Sawit Watch, Bogor.

Winarso, B., & Basuno, E. (2013). Pengembangan Pola Integrasi Tanaman – Ternak Merupakan Bagian Upaya Mendukung Usaha Pembibitan Sapi Dalam Negeri. Forum Penelitian Agro Ekonomi. 31(2), 151-169.

Purba, A., Panjaitan, F.R., & Siahaan, D. (2013). Teknologi Integrasi Sawit-Sapi Energi (ISSE): Kemandirian Pakan, Pupuk Organik Berbasis Kelapa Sawit Serta Keekonomiannya (Case: Kebun Bukit Sentang). Medan: PusatPenelitian Kelapa Sawit (PPKS).

Handaka, A., Hendriadi, & Alamsyah, T. (2009). Perspektif Pengembangan Mekanisasi Pertanian dalam Sistem Integrasi TernakTanaman Berbasis Sawit, Padi dan Kakao. Prosiding Workshop Nasional Dinamika dan Keragaan SistemIntegrasi Ternak-Tanaman : Padi, Sawit, Kakao. Bogor: BadanLitbang Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.

www.domainesia.com