Bengkulutoday.com - Ada kisah jenaka yang kerap diceritakan tentang almarhum Malik Fadjar, tokoh Muhammadiyah yang dikenal luas sebagai cendekiawan dan mantan Menteri Pendidikan Nasional. Kisah ini melibatkan sahabatnya dari Nahdlatul Ulama, almarhum Hasyim Muzadi.
Sebagai warga Muhammadiyah, kebiasaan merokok memang sering dipandang kurang sejalan dengan sikap organisasi yang dikenal disiplin dalam menjaga kesehatan. Namun faktanya, dalam kehidupan sehari-hari, ada saja warganya yang tetap menjadi perokok—termasuk Prof. Malik Fadjar.
Suatu ketika, di sebuah bandara di Jakarta, Prof. Malik bertemu dengan Kiai Hasyim Muzadi, tokoh besar Nahdlatul Ulama. Keduanya hendak kembali ke Malang.
Saat itu, Kiai Hasyim melihat Prof. Malik sedang mengisap rokok.
“Lho, sampean Muhammadiyah kok merokok?” tegurnya, setengah bercanda.
Dengan santai dan penuh senyum, Prof. Malik menjawab,
“Ini saya sedang pindah ke NU.”
Mendengar jawaban itu, Kiai Hasyim yang juga dikenal humoris tampak terkejut sambil tertawa. Ia lalu bertanya lagi,
“Kalau rokoknya sudah habis, bagaimana?”
Prof. Malik menjawab enteng,
“Ya pindah Muhammadiyah lagi.”
Kisah ringan ini sering dikenang sebagai gambaran akrabnya hubungan para tokoh Muhammadiyah dan NU. Di balik perbedaan tradisi dan gaya keberagamaan, tersimpan persahabatan hangat, saling menghormati, dan tentu saja—selera humor yang menyatukan.