Mengatasi Resistensi Walang Sangit dengan Bioinsektisida

Ilustrasi

Walang sangit merupakan hama potensial yang pada waktu-waktu tertentu menjadi hama penting tanaman padi dan dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 50%. Karena itu dalam bididaya tanaman padi sering dilakukan pengendalian hama dengan insektisida sintetik. Namun jika menggunakan insektisida sintetik untuk mengendalikan walang sangit secara terus menerus resistensi akan berkembang. Pemantauan dan deteksi resistensi secara dini perlu dilakukan agar status resistensi pada suatu hama dapat diketahui lebih awal,karena hal ini bermanfaat dalam menyusun strategi pengendalian hama resisten untuk menghindari kegagalan pengendalian.

Salah-satu upaya untuk pengendalian hama resisten adalah menggunakan bio insektisida. Beaveriabassiana merupakan bio-insektisida yang dapat mengendalikan walang sangit pada padi. insektisida sintetik Fipronil dan kepekaannya terhadap bioinsektisida B. bassiana di Indonesia belum banyak dilaporkan. Untuk menekan terjadinya resistensi perlu dilakukan penelitian tentang status resistensi walang sangit terhadap insektisida sintetik dan kepekaannya terhadap suatu jenis bioinsektisida pada tanaman padi di suatu wilayah.

Berdasarkan penelitian Farid (2018). Walang sangit yang dinyatakan telah resiten terhadap insektisida sintetik berbahan aktif Fipronil, resistensi ini dapat terjadi karena:

  1. Penggunaan pestisida yang sama secara terus menerus
  2. Konsentrasi yang digunakan melampaui dosis anjuran
  3. Juga dapat disebabkan karena penyemprotan di lapang tanpa menggunakan Agristik, sehingga memudahkan insektisida tercuci, ketika hujan. Hal ini akan berdampak semakin cepat terjadinya seleksi terhadap serangga yang rentan sehingga pada populasi berikutnya akan didominasi oleh serangga yang tahan (resisten) terhadap insektisida.

Ketahanan serangga terhadap insektisida sintetik dapat dipatahkan dengan menggunakan Bio insektisida B. bassian). Hal ini dimungkinkan oleh perbedaan mekanisme kerja dari dua insektisida tersebut. Jenis bahan aktif Fipronil mempunyai cara kerja yang terbatas dalam meracuni serangga yaitu kontak dan sistemik. Insektisida B. bassiana memiliki cara kerja membunuh dengan cara yang lebih kompleks. B.bassiana masuk ke tubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Proses selanjutnya, jamur akan bereproduksi di dalam tubuh inang. Jamur akan berkembang dalam tubuh inang dan menyerang seluruh jaringan tubuh, sehingga serangga mati.

Daftar Pustaka
Farid,  Miftah., Kaidi.,  Mochamad Syarief. 2018. Status Resistensi Walang Sangit (Leptocorisa acuta F.) Terhadap Insektisida Sintetik dan Kepekaannya terhadap Beauveria bassiana  pada Tanaman Padi. Agriprima. Vol. 2(79-86)

Disusun Oleh: 
Nama: Febrizany Sanjung
NPM: E1J017005
Dosen Mata Kuliah: Prof. Ir. Marulak Simarmata, M.Sc.Ph.D, PS Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
 
 

www.domainesia.com