Mahasiswa Wajib Jadi Kutu Buku

Muhammad Aufal Fresky

Kaum intelektual diharapkan tidak hanya tinggal di kampus. Di luar sana, ratusan juta rakyat Indonesia sedang menunggu kiprah mereka. Lebih-lebih mereka yang memiliki titel sebagai agen perubahan. Siapa lagi kalau bukan mahasiswa.

Ya, mahasiwa digadang-gadang akan melanjutkan estafet kemimpinan negeri ini. Mahasiwa diharapan menjadi  pemimpin masa depan yang mampu memberikan sumbangsih tenaga dan pikirannya. Kita tahu, jumlah mahasiswa di negeri ini sudah melimpah ruah. Beda dengan zaman pra kemerdekaan dulu di mana pendidikan tinggi hanya dinikmati oleh segelintir orang. Sekarang, zaman sudah berubah, setiap anak muda berkesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Bahkan berbagai macam program dikeluarkan oleh pemerintah untuk membantu dan mensubsidi mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu. 

Setelah puluhan tahun mengenyam kemerdekaan, tentu dinamika mahasiwa mulai mengalami pergeseran. Kata sebagian orang, dulu begitu banyak mahasiwa yang idealis. Mahasiwa yang memiliki cita-cita brilian untuk kemajuan bangsanya. Lebih-lebih mahasiwa di era sebelum kemerdekaan. Mereka tidak hanya berkutat pada dunia akdemis saja. Lebih dari itu, urusan organisasi mereka geluti demi mewujudkan keadaan masyarakat yang lebih baik lagi. Dan sebagian dari mahasiwa di zaman pra kemerdekaan telah menjelma menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang disegani semua kalangan. Proses yang dilewati tentunya tidak mudah. Saya rasa mahasiwa di zaman tersebut tidak egois hanya menentingkan urusan dirinya saja. Bahkan sebagian dari mereka menolak bekerjasama dengan pihak penjajah karena rasa cinta tanah airnya begitu menggebu-gebu. Bagi mereka kemerdekaan Indonesia tidak bisa ditukarkan dengan hal apapun. 

Kiranya, kita bisa kembali menengok bagaimana upaya keras para pemuda di zaman tersebut yang rela mengorbakan jiwa dan raganya demi bangsa dan negaranya. Salah satu contoh mahasiswa zaman pra kemerdekaan yang kelak akan menjadi pemimpin Indonesia yaitu Sukarno dan Hatta. Keduanya adalah jebolan universitas. Bedanya, Hatta jebolan Belanda. Sementara Sukarno jebolan Bandung. Keduanya juga memiliki kesamaan dalam dunia literasi. Yaitu sama-sama pecinta buku kelas berat. Maka tidak heran jika Sukarno dan Hatta di waktu muda sering kali menghabiskan waktunya untuk membaca buku. Tidak heran jika dari keduanya pula terlahir gagasan-gagasan yang brilian. Pikiran cemerlang keduanya tentu tidak muncul begitu saja. Ada proses yang menyertai bagaimana kecerdasan dan kepintaran kedua tokoh bangsa itu bisa terasah. Salah satu kuncinya adalah menjadikan buku sebagai sahabat. 

Kedua tokoh itu tentu saja hanya sampel kecil dari tokoh bangsa yang bisa dijadikan panutan dalam kecintaannya terhadap dunia literasi. Masih banyak lagi sebenarnya yang bisa dijadikan panutan, seperti Agus Salim, Sjahrir, Tan Malaka, dan lain sebagainya. 

Mereka semua hampir memiliki kesamaan dalam urusan membaca buku. Saya pribadi takjub melihat kecerdasan beberapa tokoh kemampuan bahasa asingnya di atas rata-rata. Dan jika ditelusuri lebih lanjut; ternyata memang sebagian tokoh-tokoh kita gemar membaca literaratur-litaratur berbahasa asing; seperti Bahasa Inggris dan Belanda. Karena memang pada saat itu, literatur berbahasa Indonesia masih sangat terbatas. 

Lantas bagaimana dengan kondisi mahasiswa kita sekarang? Jika boleh jujur, sebagian besar mahasiwa kita memang kurang memiliki kecintaan terhadap buku. Jangankan membaca buku di luar mata kuliahnya; bahkan untuk membaca buku-buku wajib yang direkomendasikan dosennya pun mereka malasnya minta ampun. Tentu saja catatan ini adalah menjadi refleksi bagi kita semua. Sama sekali tidak ada niat untuk menggurui. Apalagi bertindak seolah-olah saya memiliki kecintaan terhdap buku di atas rata-rata. Catatan ini semacam evaluasi bagi kita semua. Terutama mahasiwa yang sedang dipersiapkan untuk menduduki pos-pos stratergis di berbagai lini kepimpinan negeri ini. Dan salah satu syarat utama menjadi pemimbin besar adalah harus cerdas dan bijaksana. Kecerdasan dan kebijaksanaan bisa diperoleh dengan membiasakan diri membaca apapun. Membaca alam, membaca masyarakat, dan termasuk juga membaca buku.

Sekarang sudah saatnya mahasiwa kembali melihat dirinya sendiri. Seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk membaca buku. Atau jangan-jangan selama ini belum pernah meminjam satu pun buku di perpustakaan. Sejauh pengalaman saya ketika kuliah dulu; perpustakaan menjadi ramai ketika menjelang ujian. Karena ketika menjelang ujian para mahasiwa sedang sibuk-sibuknya mencari refrensi untuk bahan belajar dan ada juga yang sedang sibuk belajar kelompok. Dan setelah ujian, biasanya perpustakaan kembali hanya segelintir orang yang berkunjung. Tentu saja tidak semua perpustakaan seperti itu. Sekali lagi, ini hanya sampel kecil. 

Belum lagi, mahasiswa yang kecanduan main game online. Betapa banyak waktu yang dihabiskan untuk bersenang-senang. Memang bermain game bukanlah sebuah kekeliruan. Tetapi ketika setiap hari kita habiskan berjam-jam untuk bermain game; bukankah hal itu menjadi sebuah kesia-siaan. Bayangkan saja seandainya kita mengalihkannya untuk membaca buku; maka tentu banyak ilmu dan wawasan yang akan kita peroleh. Rasanya para mahasiwa perlu mengatur waktu dengan optimal demi perkembangan pola pikir dan kecerdasannya. Lalu kenapa mahasiswa wajib menjadi kutu buku? Tentu saja alasannya karena dengan rajin membaca buku, para mahasiswa itu akan semakin cerdas, wawasannya semakin luas, kepribadiannya akan tertata, pola pikirnya akan semakin dewasa, dan yang paling penting lagi adalah tidak mudah terprovokasi dan terpancing berita/ isu-isu yang tidak jelas kevalidannya. Akhir kata, saya berharap mahasiswa-mahasiswa seluruh Indonesia semakin hari semakin mencintai buku.

***

Muhammad Aufal Fresky (Pegiat Literasi asal Pamekasan)

www.domainesia.com