Skip to main content
IKLAN HPN
hukum
Sosialisasi terhadap pelajar SMP dan masyarakat yang digelar GMKI Bengkulu

Kasus Kekerasan Seksual di Bengkulu, Perempuan Diperkosa Peringkat Atas!

  • Star
  • Star
  • Star
  • Star
  • Star

Bengkulutoday.com - Sepanjang Januari-Desember 2018, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak mencapai 113 kasus. Data tersebut dihimpun dari Yayasan Pusat Pendidikan Untuk Perempuan dan Anak (PUPA) melalui rilis yang disampaikan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Bengkulu.

Masih menurut data PUPA, dari 113 kasus itu, kasus pemerkosaan menduduki peringat paling atas dengan persentase mencapai 25,66 persen. Sisanya adalah kasus pencabulan dengan persentase 22 persen, penganiayaan 22 persen, KDRT 18,6 persen dan kasus lainnya yakni pelecehan seksual, perundungan, penelantaran, percobaan pemerkosaan, cyber harransement, hingga kekerasan terhadap perempuan yang menyebabkan kematian.

Ketua GMKI Cabang Bengkulu Josua Simangunsong mengatakan, GMKI Cabang Bengkulu melalui peringatan Hari Perempuan Internasional tahun 2019 melakukan sosialisasi mengusung tema "Pendidikan Seks, antara Tabu dan Kebutuhan untuk Pencegahan Kekerasan Seksual serta Penanganannya". Sosialisasi itu digelar pada Sabtu (9/3/2019) di Desa Senali dengan sasaran para pelajar SMP dan masyarakat.

"Kegiatan sosialisasi sangat penting untuk mencegah dan menangani kekerasan seksual, kita awali dari Desa Senali dan akan dilanjutkan kedesa lainnya," kata Josua Simangunsong, Ketua GMKI Cabang Bengkulu 2018-2020.

Dijelaskan Josua, GMKI menyeru kepada masyarakat untuk turut andil dalam menyikapi kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak melalui hal-hal kecil, dimulai dari keluarga dengan melakukan pendidikan seks dan pendekatan kepada anak.

Sosialisasi itu juga bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak agar mengenal pendidikan seks, yakni tentang bagaimana dampak negatif seks terhadap para remaja dibawah umur, juga bagaimana cara orang tua mengatahi dan menyampaian pendidikan seks kepada anak. 

"Pendidikan seks bukan hal yang tabu untuk diajarkan kepada anak-anak, justru hal itu merupakan kebutuhan dalam bentuk pencegahan terjadinya kekerasan seksual," imbuh Josua.

Sosialisasi itu sendiri mengusung tema "Pendidikan Seks, antara Tabu dan Kebutuhan untuk Pencegahan Kekerasan Seksual serta Penanganannya". 

Hari Perempuan Internasional telah menjadi perayaan tahunan yang jatuh pada tanggal 8 Maret. Tujuan dari hari besar ini untuk mengapresiasi dan menghormati perempuan atas perjuangan dan pencapaian dalam hidup. Hari Perempuan Internasional dirayakan pertama kali pada tahun 1909 di New York, Amerika Serikat sebagai protes terhadap kondisi kerja bagi perempuan yang mengerikan.

Hingga di  Tahun ke-110 peringatan Hari Perempuan Internasional ini, masih banyak hal-hal yang sudah diperjuangkan sejak lama namun masih belum dimerdekakan hingga saat ini, demikian Josua menambahkan.(Rls)

Facebook comments

Berita Terkait