Skip to main content
Diskusi Publik
Diskusi Publik

Forum Mahasiswa dan Pemuda Cinta NKRI Gelar Diskusi Publik Memastikan Partisipasi Pemilih Pemula Pemilu 2019

  • Star
  • Star
  • Star
  • Star
  • Star

Bengkulutoday.com, Jakarta - Diskusi Publik dengan tema “Memastikan Partisipasi Pemilih Pemula Dalam Pemilu Damai 2019” diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa dan Pemuda Cinta NKRI, di Kedai Mie Aceh Seulawah Cikini, Jl. Cilosari No. 24, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, pada pukul 14.30 s/d 17.30 WIB, Jumat (22/03).

B

Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 70 orang mahasiswa dan pemuda dari Universitas Bung Karno, Universitas Trisakti, UKI, UNJ, Kampus Stebank (Sekolah tinggi ekonomi perbankan), Universitas Islam Jakarta, Universitas Ibnul Khaldum, Universitas Trilogi, Universitas Nasional Jakarta, Sahid Jakarta, HMI, LKBHMI, LEMI.

Hadir sebagai narasumber yaitu Faris Thalib (Akademisi/Direktur Indonesia Political Studies), Wahyu (Humas KPU DKI Jakarta), dan Achmed S. Anwar (Sekjen Gerakan Pemuda Islam Indonesia/Tokoh Pemuda dan Direktur Jaring Muda Indonesia).

Dikatakan Humas KPU DKI Jakarta Wahyu, bahwa pada pemilu 2019 persentase pemilih pemula adalah sebesar 8,10%. Untuk itu KPU sangat berusaha untuk meningkatkan agar semua pemilih pemula bisa menggunakan hak pilihnya pada pemilu tanggal 17 April 2019.

"Langkah yang sedangkan dilakukan oleh KPU sendiri adalah mengkamapnyekan anti hoaks, anti SARA, dan anti politik uang", ujarnya.

Wahyu menjelaskan bahwa peran pemilih pemula itu harusnya mengawal regulasi terkait pemilu, memastikan pendataan pemilih, mengawal kampanye damai dan memastikan datang ke TPS serta mencoblos pada 17 April 2019.

"Pemerintah saat ini sudah sangat baik dalam melakukan persiapan pemilu 2019, bahkan di era pemerintahan Presiden Jokowi-JK ini menjalankan demokrasi yang sangat baik. Mengajak seluruh elemen, masyarakat, pemuda, mahasiswa terutama kaum Milenial untuk sama-sama mengsukseskan pemilu 2019. Untuk pertama kalinya indonesia menorehkan tinta emas di dunia demokrasi dimana untuk yang pertama-kalinya pemilihan Presiden, DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kota/kabupaten digelar bersamaan. Selain mengurangi anggaran, pemilu serentak ini bertujuan untuk mengurangi kecurangan pemilu karena fokus para caleg akan terbagi selain untuk mendulang suara pribadi, dia juga berusaha mengkampayenkan capres dan cawapresnya", jelasnya memaparkan.

Sementara dikatakan Alfarisi Thalib dari akademisi mengatakan jumlah pemilih pemula sekitar 79 juta jiwa, atau 40 persen dari jumlah pemilih pada pemilu 2019.  Dan angka golput kaum pemuda itu ada sekitar 30 persen.

"Dari jumlah DPT 79 juta pemilih pemula itu, 86 persennya masih golput", ucapnya. 

Alasan mengapa masih banyak pemilih pemula golput, katanya, karena kondisi milineal yang dinamis,  pandangan politik yang berubah-ubah, cenderung skeptisme dan apatisme, menganggap politik tidak menarik dan karena pengaruh dari politik yang kurang baik.

"Maka dari itu, kita harus sama-sama mengajak kaum milenial untuk ambil bagian dalam menyukseskan pemilu pada 17 april 2019 nanti, tentu mengajak kaum milenial dan memastikan partisipasi pemilu pemula pada pemilu nanti akan membuat berjalan nya pesta demokrasi lebih baik dan dinikmati oleh seluruh rakyat indonesia. Semua itu tidak lepas dari kerja keras pemerintah Jokowi-JK. Karena di era pemerintahan inilah kita merasakan bagaimana nikmatnya kontestasi pemilu bersama", ungkapnya.

Di sisi lain dikatakan Ahmed S Anwar selaku tokoh pemuda, kaum milineal itu posisinya harus lebih strategis, bukan hanya dilibatkan saat kontekstasi politik saja tapi pemuda harus berdiri independen untuk benar-benar mengawal demokrasi pada pemilu itu agar berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

"Karena pemuda dan kaum milineal ini adalah pemilih yang cendrung idealis, suara milineal ini harus menjadi suara yang memastikan bangsa akan lebih baik ke depannya", katanya.

Realitas hari ini, lanjutnya, yang mengerogoti kaum pemilih pemula adalah rawan di politisasi, rawan dipengaruhi dan dimobilisasi, labil dan emosional, sasaran politik yang transaksional, dan belum memiliki pengalaman dalam pemilu.

"Jadi sebagai orang yang sadar politik, kita harus memberikan edukasi dan sosialisasi kepada pemilih pemuda betapa pentingnya menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2019 ini. Karena, satu suara milineal akan sangat menentukan masa depan bangsa. Jadi, ayo kita masifkan edukasi untuk menggunakan hak suara dan betapa ruginya menjadi seorang yang golput", sampainya.

"Saya juga mengapresiasi langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah saat ini, dengan cekatan dan cepat coba menuntaskan masalah tentang pemilih pemula ini.  Dimana melalui dinas Dukcapil dan dinas lain telah melakukan verifikasi data pemilu pemula. Pemerintah juga telah berusaha dengan semaksimal mungkin untuk memastikan agar semua pemilih pemula pada tanggal 17 April 2019 bisa menggunakan hak suaranya", sambungnya menandaskan.

Pantauan media, pada sesi tanya jawab Andri dari UBK menyampaikan pertanyaan, Berapa data pemilu pemula pada tahun 2014?

Jawaban dari KPU: KPU pada tahun 2014 belum memiliki data tentang detail tentang berapa persentase pemilu pemula karena KPU hanya mengklasifikasi berdasarkan jenis kelamin saja.

Sementara Ridwan dari Unas: Bagaimana solusi kongkrit mengurangi golput dan memastikan partisipasi pemilih pemula pada pemilu 2019? 

Jawaban dari Thalib: memaksimalkan edukasi pemilu, sosialisasi dan kampanye betapa pentingnya menggunakan hak pilih pada pemilu 2019. Kita harus bisa menyakinkan pemilih pemula betapa penting suara milineal demi masa depan bangsa.

Dan Isra dari HMI: Bagaimana ketika nanti pemilu 2019 terjadi konflik?

Jawaban KPU: KPU dan semua stakeholder Pemilu sudah membagikan peran dan tugas masing agar memastikan pemilu 2019 berjalan dengan damai dan sesuai dengan harapan. Apabila nanti ada pelanggaran atau konflik di lapangan bisa dilaporkan ke Bawaslu, dan nanti akan dikaji apakah termasuk pelanggaran pemilu.

(Adryan)

Facebook comments

Berita Terkait