Darurat Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan Indonesia

Afriani Sulastri

Oleh: Afriani Sulastri (Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Bengkulu)

Kekerasan seksual bukan lagi menjadi suatu permasalahan yang jarang ditemui dimasyarakat, nyaris bisa ditemui setiap hari, setiap saat. Di tempat kerja, dijalan, disekolah, dikampus bahkan rumah sendiri.

Pelaku kekerasan seksual ialah orang lain yang tak dikenal maupun kerabat terdekat. Ada banyak kasus mengenai kekerasan seksual yang dapat kita jumpai di kalangan masyarakat seperti pemerkosaan, pencabulan, dan pelecehan yang merupakan kasus kekerasan seksual terbanyak.

Dimana yang dimaksud oleh Kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang merendahkan, menghina dan menyerang dan atau berupa tindakan lainya, terhadap seseorang dengan nafsu dan hasrat seksual seseorang yang bertentangan dengan kehendak seseorang.  Komisi Nasional Perempuan mencatat ada 46.698 kasus kekerasan seksual yang terjadi dalam sepanjang tahun 2011 hingga 2019. Bahkan komnas perempuan menyebut setiap 2 jam sekali setidaknya ada 3 perempuan di Indonesia yang mengalami kekerasan seksual. Jika dilihat dari data yang dicatat oleh komnas perempuan, hal ini tentu perlu menjadi perhatian khusus, karena kekerasan seksual bukan merupakan suatu permasalahan yang bisa dianggap gampang, dilihat dari banyaknya korban kekerasan seksual yang mengalami ganguan jiwa dan depresi, hal ini tentu akan membuat para korban kehilangan masa depan, terlebih lagi rata-rata korban yang mengalami kekerasan seksual ini berada di umur yang relatif muda. 

Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya kekerasan seksual ini antara lain yaitu pelaku menganggap bahwa wanita lebih lemah, sehingga ditempatkan dalam posisi subordinasi yang harus dikuasai, mempunyai riwayat kekerasan seksual saat masih kecil adanya trauma ini membuat pelaku ingin membalasnya ketika ia dewasa, ketergantungan obat-obatan terlarang dan minuman keras, sering membaca atau menonton konten-konten porno, serta faktor kemiskinan walaupun juga banyaknya pelaku yang berasal dari kalangan atas. Terlepas dari beberapa faktor tersebut tidak ada satupun pembenaran dalam hal ini. Setiap hari perempuan selalu dihantui oleh rasa ketakutan mereka, dimanapun mereka berada harus selalu bersikap hati-hati dan menjaga diri. Bahkan dirumah sekalipun tempat yang dianggap paling aman bisa saja menjadi tempat terjadinya kekerasan seksual. Kekerasan seksual memang salah satu kejahatan yang sangat mengerikan. 

Tidak sedikit korban kekerasan seksual yang tidak melapor, hal ini dikarenakan adanya tekanan dan ancaman dari pelaku kekerasan seksual, seperti pelaku mengancam akan membunuh korban jika korban melapor kepihak berwajib dan lembaga yang berwenang. Tetapi hal ini bisa diatasi jika korban merasa khawatir melaporkannya langsung kepada pihak berwajib, maka bisa mengutarakannya terlebih dahulu kepada orang terdekat. Karena perempuan patut untuk dihargai dan dipandang sederajat, sehingga tidak ada yang bisa memperlakukan mereka dengan semena-mena, apalagi sampai melakukan kekerasan seksual. Indonesia sendiri memiliki hukum yang sangat ketat dalam menindak perlakuan kekerasan seksual, dimana diatur didalam Pasal 285 KUHP mengenai kekerasan seksual dan 289 mengenai pencabulan. Dalam Pasal 1 Ayat (1) didalam Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 menjelaskan bahwa “Hak Asasi Manusia merupakan seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum dan Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.” Perempuan juga memiliki hak untuk hidup tentram dan damai tanpa ada ancaman kekerasan setiap hari, perempuan merupakan manusia lemah dan sangat mudah untuk mendapatkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Tetapi apabila tindakan tersebut  mengarah pada ranah kriminal.  Jangan hanya berdiam diri karena malu dan takut, karena dari hal tersebut semakin membuat para pelaku merasa aman untuk terus melakukan tindakan kejahatannya. Dengan demikian Pelaku tindak kekerasan seksual dapat dijatuhi Sanksi Pidana sesuai dengan undang-undang yang berlaku sebagai bentuk kebijakkan hukum atas kejahatan yang dilakukannya. Tingkah laku manusia yang jahat , immoril, dan antisosial itu membuat masyarakat marah dan menimbulkan kejengkelan di kalangan masyarakat dan sangat merugikan umum. Karenanya, kejahatan tersebut jangan dibiarkan terus berkembang dan bertumbuh di dalam kehidupan masyarakat, maka tindak kekerasan seksual harus diberantas demi ketertiban, keamanan, dan keselamatan. Warga masyarakat secara keseluruhan, bersama-sama dengan lembaga-lembaga resmi yang berwenang baik kepolisian, kejaksaan, pengadilan, bahkan lembaga Pemasyarakatan, dan lain-lain wajib menanggulangi kejahatan ini sejauh mungkin.

Sumber bacaan :
https://www.suara.com/news/2020/05/14/043837/komnas-tiap-2-jam-3-perempuan-indonesia-alami-kekerasan-seksual
https://m-klikdokter-com.cdn.ampproject.org/v/s/m.klikdokter.com/amp/3225403/11-alasan-orang-melakukan-pelecehan-seksual
KUHP
UU NO. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia