Skip to main content
TODAY
Tajuk Rencana
Empat calon Wali Kota Bengkulu bersaing merebut suara rakyat Kota Bengkulu pada 27 Juni 2018 nanti

27 Juni Memilih, Siapa Menang?

  • Star
  • Star
  • Star
  • Star
  • Star

Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bengkulu akan digelar 27 Juni 2018. Disaat itu tiba, sebanyak 230 ribu lebih mata pilih di Kota Bengkulu akan menentukan pilihannya. Kepada siapa? Ada empat pasangan calon. Dia adalah David Suardi dan Bakhsir, Erna Sari Dewi dan Ahmad Zarkasih, Helmi Hasan dan Dedy Wahyudi serta Patriana Sosialinda dan Mirza. 

Selama beberapa bulan terakhir, warga kota telah disuguhkan berbagai tampilan sosok para pasangan calon. Utamanya, penampilan mereka selain melalui berbagai saluran resmi yang ditetapkan oleh KPU, para paslon juga dibantu oleh tim sukses dan simpatisan melalui media sosial. Media sosial menjadi wahana diskusi, caci, kritik juga telaah bagi warga untuk menyimpulkan pilihannya. Meskipun, kecil kemungkinan media sosial akan berdampak pada beralihnya pilihan warga kota. Sebagian warga kota seperti sudah punya "tambatan hati" dan susah digoda lagi oleh pesan-pesan politik maupun jualan visi dan misi paslon.

PILWAKOT

David-Bakhsir, nomor 1
David dan Bakhsir tentu akan mengklaim dukungan ril melalui KTP yang telah menghantarkannya sebagai pasangan calon. Ini bisa menjadi instrumen data untuk menguatkan kepercayaan diri menuju kemenangan. Pasangan ini dikenal masif bersosialisasi dengan kepercayaan diri yang tinggi. Bagaimana tidak, pasangan ini adalah pasangan independen atau perseorangan yang notabene belum memiliki basis politik sebagaimana dimiliki oleh tiga paslon lainnya yang didukung partai politik. Meski partai politik tidak serta merta "anggotanya" ikut berkontribusi di pilwakot, setidaknya secara data, partai relatif memiliki basis. 

David yang memiliki latar belakang militer (TNI) dan Bakhsir yang memiliki latar belakang ASN tentu bukan politisi yang kerab dituding 'hobi' mengumbar janji. Pasangan ini 'bermain' dalam ranah isu normatif dan menawarkan solusi membangun Kota Bengkulu tanpa korupsi. Kontrak politik menjadi bagian dari komitmen pasangan ini jika nanti terpilih.

Dalam rekam jejak, pasangan ini relatif tidak memiliki 'cacat' politik. Tentunya pasangan ini layak mendapat tempat dihati warga Kota Bengkulu jika melihat pada track record bersih keduanya.

PILWAKOT

ESD-AZA, nomor 2
Pasangan Erna Sari Dewi dan Ahmad Zarkasi juga menjadi pilihan alternatif. Perpaduan perempuan dan laki-laki dalam memimpin akan memberikan warna tersendiri. ESD yang pernah menduduki kursi puncak legislatif sebagai ketua DPRD Kota Bengkulu tentu memiliki alasan kuat maju pilwakot. Selain memahami seluk beluk anggaran dan persoalan di Kota Bengkulu, ESD juga didukung oleh politisi senior Ahmad Zarkasi yang juga pernah menjabat sebagai pimpinan DPRD Kota Bengkulu. Ahmad Zarkasi bahkan dikenal kritis ketika menjadi pimpinan dewan kala itu. Karenanya, ia sampai harus rela mendekam di penjara karena dituduh mencemarkan nama baik wali kota saat itu. Untuk 'mesin' politik, pasangan ini tidak diragukan lagi, yakni Nasdem dan PKS yang menjadi motor penggerak utama. Ditambah lagi dengan 'mesin' partai PPP. 

Kepada warga kota, paslon ini menjanjikan program 100-300 juta untuk tiap RT tiap tahun. Program itu diharapkan nantinya akan mendukung perekonomian Kota Bengkulu. Pasangan ini juga menjanjikan program Call Dokter untuk program dibidang kesehatan bagi warga kota.

Untuk rekam jejak politik, ESD selama menjabat pimpinan dewan kerab berseberangan dengan eksekutif. Beberapa kebijakan wali kota sering mendapat kritikan bahkan 'dibatalkan' oleh dewan selama ESD menjabat. Pasangan ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai 'aktifis legislatif'. Sebab selama menjabat sebagai pimpinan, keduanya kritis terhadap eksekutif.

PILWAKOT

Helmi-Dedy, nomor 3
Pasangan ini tentu menduduki peringkat popularitas tertinggi di Kota Bengkulu. Selain dibantu dengan 'mesin' politik PAN,Gerindra dan Demokrat, Helmi Hasan juga memiliki basis pendukung potensial yang terbina selama ia menjadi Wali Kota Bengkulu 5 tahun belakang.

Helmi Hasan yang pernah menjabat Wali Kota Bengkulu selama 5 tahun tentu menjadi 'sasaran' kritik paling empuk bagi politisi lawan. Namun meski demikian, pasangan wakil yakni Dedy Wahyudi mampu mengimbangi manuver politik para rivalnya. Dengan pendekatan santun tanpa menjatuhkan, sosok Dedy dianggap mampu menjadi penetralisir suhu politik dalam pilwakot Bengkulu. Jika bukan Dedy pasangan Helmi, mungkin serangan rival politik kian masif dan gencar. 

Sosok Helmi selain kontroversial juga mengundang polemik atas ketidakhadirannya dalam dua kali debat kandidat pilwakot. Secara politik, bisa saja itu dijadikan bahan untuk menjatuhkan elektibilitas Helmi-Dedy, namun harus disadari, pemilih kota adalah pemilih yang relatif cerdas dan idiologis. Susah dipengaruhi oleh agitasi-agitasi politik yang diframing untuk menjatuhkan lawan politik. 

Meski pernah terjerat persoalan hukum, namun Helmi Hasan tidak terbukti hingga sekarang. Namanya masih bersih dalam rekam jejak dibidang hukum. Sementara berbagai program selama menjadi Wali Kota Bengkulu yang belum tereaisasi, pendukung Helmi melontarkan tudingan bahwa membangun kota tidak bisa hanya eksekutif saja, namun juga harus bersinerji dengan legislatif. Salah satu kendala terhambatnya program Helmi adalah karena tidak mendapat persetujuan legislatif.

Pengalaman Dedy Wahyudi selama menjadi 'orang media' juga menambah energi politik bagi Helmi. Dedi dianggap mampu memahami persoalan kota dengan jam terbang dan pengalaman menjadi penulis juga top manajer di media. Berbagai peristiwa politik di Kota Bengkulu tentu tidak alpa dari ingatan Dedy sebagai orang media. Hal itu pula yang dianggap menjadi modal Dedy untuk merumuskan 'problem solving' Kota Bengkulu kedepan.

PILWAKOT

Linda-Mirza, nomor 4
Pasangan Patriana Sosialinda-Mirza mendapat dukungan politik yang mumpuni. Bagaimana tidak, dua partai 'senior' yakni Golkar dan PDIP ditambah Hanura dan PKB menjadi 'mesin' politik pasangan ini. Linda yang pernah menjabat sebagai Wakil Wali Kota Bengkulu mendampingi Helmi Hasan tentu memiliki pengalaman yang cukup untuk modal memimpin Kota Bengkulu. Selain itu, Linda juga pernah menduduki kursi legislatif, berbekal itu, Politisi Golkar ini semakin mantap untuk mendulang kemenangan politik. 

Sementara Mirza meskipun masih 'belia' didunia Politik, namun 'mesin' politik PDIP tidak bisa dianggap remeh. Terlebih, instruksi partai Golkar jelas dan tegas untuk memenangan pasangan ini di pilwakot Bengkulu 27 Juni 2018 mendatang.

Linda adalah sosok dengan kemampuan komunikasi politik 'grassroot' yang baik. Kemampuan adaptifnya dalam berbagai situasi menjadikannya sosok 'srikandi' yang layak diperhitungan dalam kancah perpolitikan lokal di Bengkulu. Tentu masyarakat Kota Bengkulu tidak perlu ragu jika pasangan ini nantinya memimpin Kota Bengkulu 5 tahun kedepan. (**)

Facebook comments

dinkes prov

 

Berita Terkait